Jumat, 23 Mei 2008

PEMIMPIN YANG PEDULI / RESPONSHIF


Oleh : Ispiraini Lc


Di zaman kekhalifahan Umar bin Khattab, pernah terjadi krisis luar biasa atau terkenal dengan istilah 'Am Ramadah yang terjadi sekitar tahun 18 Hijriyah. Kata ramada bagi orang Arab merupakan ungkapan ketika terjadi kebinasaan, banyak orang yang meninggal, dan sebagainya. Ibnu Sa'ad, seorang sejarawan Muslim, melukiskan, ''Saat itu, terjadi bencana yang hebat, kekeringan terjadi di mana-mana, binatang mati bergelimpangan, orang-orang mati kelaparan, sampai ada yang menggali lubang tikus untuk mencari makanan penyambung hidup.''

Pertanian di waktu itu gagal total karena hujan tak kunjung turun dan tanah-tanah yang mengering menimbulkan debu sepanjang hari. Kondisi ini diperparah dengan munculnya penyakit menular di negeri Syam. Padahal, Hijaz (Makkah dan Madinah) sangat bergantung dengan barang-barang impor dari Syam. Karena pedagang Hijaz tidak berani melakukan perjalanan dagang ke Syam, stok barang di Hijaz pun semakin langka dan sudah bisa dipastikan harga kebutuhan masyarakat melambung tinggi. Harga segelas susu dan sekantong keju saja bisa mencapai empat puluh dirham.

Dalam kondisi semacam ini, Umar bin Khattab memperlihatkan kepedulian seorang pemimpin umat, yang tentu menjadi teladan berharga bagi generasi berikutnya. Selama masa krisis, beliau tidak pernah mau makan di rumah salah satu putranya, bahkan makan bersama salah satu istri tercinta sekalipun. Umar juga bersumpah untuk tidak makan keju dan roti yang merupakan makanan favoritnya.

Kepedulian terhadap penderitaan rakyat bukan hanya milik pribadi Umar. Semua anggota keluarganya pun harus menunjukkan hal yang sama. Maka, ketika anaknya yang masih kecil memegang sepotong semangka, Umar menegurnya, ''Bagus, wahai putra Amirul Mukminin! Kamu makan buah-buahan, sedangkan umat Muhammad mati kelaparan.''

Tiap tengah malam, Umar selalu berdoa, ''Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kebinasaan umat Muhammad di tanganku dan di dalam era kepemimpinanku.'' Walaupun krisis yang melanda begitu luar biasa, tetapi tidak ada satu pun yang protes, apalagi mendemo Umar bin Khattab. Kelaparan dan kemiskinan tidak membuat mereka melakukan tindakan anarkis, hilang akal sehat, atau bunuh diri.

Semua sadar bahwa apa yang mereka rasakan juga dirasakan oleh sang khalifah, bahkan oleh semua keluarga khalifah. Umat merasa senasib sepenanggungan dengan pemimpin mereka. Sehebat apa pun pemimpin itu, secerdas apa pun solusi dan kebijakan yang ditawarkan pemimpin, semuanya tidak terlalu berarti ketika rakyat sudah pesimistis dan hilang kepercayaan kepada pemimpinnya

KOKOH /SOLID


80 Tahun Al-Ikhwan Al-Muslimun… Pembentukan Yang Kokoh

ASWW. Ikhwanonline.com

Disaat umat Islam berada dalam kebodohan dan kegelapan, dan ketika pemahaman Islam yang komprehensif mengalami penyempitan dan terbatas posisinya hanya di masjid dan tidak memiliki peran dan tempat dalam lini kehidupan, begitupun disaat umat Islam merintih akibat kejatuhan yang berkepanjangan terhadap khilafah Islam sehingga mengarah pada hilangnya semangat dan gairah umat dan kehilangan sumber kekuatannya… Namun di tengah kedzaliman dan kegelapan, muncul cahaya yang bersinar ke segala penjuru, menghembuskan ruh kembalinya kehidupan terhadap dakwah yang agung, yang dibawa oleh seseorang yang digerakkan oleh pertolongan Allah untuk mengemban amanah dakwah yang berat dan untuk mengembalikan sinar dan cahayanya yang baru sehingga menyebar ke pelosok dunia.

Demikianlah imam As-Syahid Hasan Al-Banna muncul di dunia ini dengan dakwah yang kekal yang datang tepat pada waktu dan posisinya, untuk membangun kembali jama’ah mu’minah yang mampu mengemban dakwah ini sebagai amanah Allah di setiap leher yang menisbahkan diri kepadanya, beliau berkata dengan lantang pada saat berkhutbah dihadapan al-ikhwan untuk memperbaharui tujuan : “Demikianlah yang diinginkan Allah untuk mengemban warisan yang berat ini untuk diikuti, sehingga bersinar cahaya dakwah di seluruh penjuru dunia yang penuh dengan kegelapan, sehingga Allah berkenan meninggikan kalimat-Nya dan menampakkan syariat-Nya”.

Maka dari itu asas dakwah Al-Ikhwan terfokus pada tiga hal (al-fahmu al-amiq (pemahaman yang mendalam), at-takwin ad-daqiq (pembentukan yang kokoh), al-amal al-mustamir (kerja yang terus menerus), silsilah ini disampaikan agar kita mendapatkan darinya akan prestasi yang tidak jauh dari 3 fokus diatas, kita telah sampaikan sebelumnya tentang pemahaman yang mendalam, karena itu saat ini akan kita bahas tentang pembentukan yang kokoh.

Metode dari sangat kekasih

Ketika Allah mengutus nabi-Nya ditegaskan akan risalahnya, dengan firman Allah:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمْ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (Al-Jumu’ah:2)

Allah menjelaskan bahwa tarbiyah dan tazkiyah adalah sebagai pendahuluan dalam ta’lim dan tatsqif, dan dari sini pula, bahwa manhaj Al-Ikhwan dalam tarbiyah mengikuti manhaj sang nabi tercinta, bukan bid’ah; maka dari itu tarbiyah Al-Ikhwan bersumber pada kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya.

Dan Allah telah memilih Imam Al-Banna untuk berjalan diatas jalan nabi tercinta Nabi saw dengan membersihkan unsur-unsur yang baik guna mengemban amanah dakwah dan jihad, menyatukan sebagiannya dengan sebagian lain, seperti yang terjadi di dar el arqom, imam Al-Banna memperhatikan tarbiyah dengan perhatian yang besar, sehingga dibuatlah manhaj dan uslub yang dapat ditunaikan dalam mempersiapkan individu muslim dan menjadikannya berada di jalan yang benar, menghidupkan kembali dar el arqom dan apa yang ada di dalamnya dengan melakukan persiapan dan pembinaan, mencetak para pemilik keyakinan dan keteguhan, membawa para ikhwannya pada uslub tarbiyah yang sesuai dengan manhaj Islam, dan menjadi insan yang amanah dalam melakukan kerja besar, membinanya dan memperhatikan unsur-unsurnya (baik ruh, akal dan jasad); seimbang antar semua unsur tersebut.

Dan semenjak itulah gerak dakwah dimulai yaitu dengan melakukan pembentukan ma’had Hira Islam dan Dar Ummahat Al-Mu’minun; guna mencetak generasi yang beriman yang terbina atas Islam dan prinsip-prinsipnya, kemudian berkembang menjadi kerja tarbawi dalam bentuk yang tersistem, jaulah dan kasyafah, kemudian system katibah, sehingga kokoh hingga berakhir pada system usrah dalam lingkup kerja sama.

Dakwah yang abadi

Perjalanan dakwah Al-Ikhwan Al-Muslimun telah banyak melakukan dakwah perbaikan; sehingga ketika membaca perjalanan sejarahnya akan tampak perbaikan yang banyak, melintasi fase yang memenuhi pendengaran dan penglihatan, kemudian tidak pernah terjadi pelenturan, fatrah atau inhiraf (penyimpangan) sejak awal pembentukannya dan tidak berubah prinsip-prinsipnya walaupun telah melewati beberapa fase, atau berubah arusnya dalam memahami berbagai peristiwa dan perkembangannya, setelah satu atau dua generasi dakwah ini atau sekalipun setelah terjadi peristiwa dahsyat yang menimpa jama’ah ini dan menjadi kenangan sejarah.

Dakwah Al-Ikhwan yang telah dihadirkan oleh seorang pendiri rahimahullah “di tengah berbagai peristiwa yang menyedihkan dan banyak kejadian yang pahit, yang muncul pada siang malam, menahan arus yang deras dan besar dalam dakwah yang bergemuruh disegala pelosok dunia, berjalan mengikuti gelombang yang tinggi di berbagai tempat yang subur, siap menghancurkan berbagai tipu daya dari angan-angan, janji-janji dan propaganda… kita hadir dengan dakwah ini, kami al-ikhwan al-muslimun, walaupun tenang namun lebih geraknya kencang dari tiupan angin topan yang dahsyat, merendah diri namun lebih kokoh dari gunung yang tinggi dan kuat, terbatas jalannya namun lebih luas dari garis lintas sektoral sekalipun, bersih dari berbagai propaganda palsu dan dusta, dan tetap memelihara akan kemuliaan kebenaran yang agung, wahyu yang mulia dan lindungan Allah, bersih dari ketamakan, hawa nafsu dan kepentingan-kepentingan pribadi serta tujuan-tujuan individualistis, yang dengan itu semua mampu mewariskan orang-orang yang beriman dan jujur dalam kerja demi menggapai kebahagiaan di dunia dan surga di akhirat kelak”.

Dan dakwah Al-Ikhwan Al-Muslimun masih tetap eksis dan kokoh serta tegas sekalipun pendirinya telah pergi pada 80 tahun lalu, berjalan di lintasan satu prinsip; tidak ada penyimpangan atau perubahan sedikitpun, atau pudar dan mati cahayanya atau berbalik haluannya, sekalipun harus melewati berbagai macam pembersihan dan pembantaian, atau pemenjaraan dan penangkapan, sekalipun harus melewati berbagai macam ujian dan konspirasi, barbagai macam kendala, hambatan dan siksaan, namun generasi demi generasi tetap bermunculan dan berdatangan serta yang simpati terhadap dakwah ini, generasi yang berjalan dalam satu arah, satu prinsip dan satu tujuan yang berjuang demi dakwah tersebut, sehingga sampai hari ini telah menyebar ke berbagai Negara hingga 90 negara di dunia; hal tersebut terjadi adalah karena karunia, keberkahan dan perlindungan Allah terhadap dakwah ini, diiringi dengan kekokohan pembentukan, pewarisan, tarbiyah dan penyiapan generasi yang solid pada jamaah ini.

Tarbiyah adalah dasar pembentukan

Imam Al-Banna mengajak kita untuk menolehkan pandangan pada tarbiyah, beliau menegaskan akan pentingnya keteguhan setiap individu terhadap tarbiyah dan mujahadah (kesungguhan) sehingga menjadi batang yang kokoh dan generasi yang sempurna, beliau berkata: “bahwa ma’rakah (perjuagan) kita paling utama adalah tarbiyah” guna menumbuhkan ditengah-tengah umat akan pemahaman bahwa apapun bentuk dakwah yang tidak di dasarkan pada kerja tarbiyah pada hakikatnya adalah ibarat fatamorgana yang menipu, dan Imam Al-Banna memahami bahwa pembangunan generasi merupakan suatu keharusan dalam usaha melakukan perbaikan, dan diantara keistimewaan dakwah Al-Ikhwan dari yang lainnya adalah karena Al-Ikhwan berjalan dengan tarbiyah yang mampu mewujudkan eksistensi dan tawrits dakwah, dan hal tersebut merupakan bentuk yang menakjubkan dalam jamaah ini seperti yang disebutkan oleh imam Al-Adwi sebagai “Jamaah Tarbawiyah”.

Tarbiyah menurut Al-Ikwah adalah satu-satunya jalan untuk dapat membangun generasi yang shalih dan bertaqwa, sebagai satu-satunya jalan untuk mewujudkan sosok muslim yang jujur dan memiliki jiwa pejuang, dan Al-Ikwhan memahami bahwa tarbiyah membutuhkan jalan panjang dan berat serta memiliki banyak rintangan dan hambatan, sehingga tidak ada yang mampu bersabar menjalankannya kecuali hanya sedikit saja. Namun ini merupakan satu-satunya jalan menuju satu tujuan dan tidak ada alternative lainnya, sehingga dengan itu pula Al-Ikhwan menamakan gerakan ini dengan sebutan “Sekolah pembinaan dan pembentukan atas dasar manhaj yang komprehensip dan agung”… madrasah yang menjadikan agama sebagai sumber kehiduapn, madrasah yang mampu mentarbiyah sosok individu, melakukan perjanjian dengannya dan membentuknya memiliki sifat-sifat sosok muslim yang shalih dan sempurna baik pemahaman maupun keyakinan, akhlah dan prilaku, sehingga menghadirkan contoh yang agung sepanjang sejarah dan perjalanannya, dan menjadi sebaik-baik madrasah. Dan sekiranya tidak ada tarbiyah maka Al-Ikhwan tidak akan mampu menghadapi zionis dan mengalahkannya saat terjadi perang di bumi Palestina, menghadapi pasukan Inggris di terusan Suez, menghadapi berbagai ujian, cobaan, penjara, siksaan dan celaan yang mendera mereka.

Imam al-Banna merupakan pionir disaat terjadi perubahan pada sisi Islam yang mulia dari sekedar pandangan-pandangan teoritis yang terdapat dalam buku-buku kepada alam realita yang dapat dirasakan dan disentuh melalui tarbiyah dan takwin, dan menegaskan akan pentingnya memantau barisan dan membersihkannya dari kelemahan, beliau berkata: “Jika diantara kalian adalah kelompok yang sakit hatinya, menyembunyikan tujuan terselubung, ketamakan yang ditutup-tutupi dan kecewa pada masa lalu, maka keluarkanlah semuanya dari jiwa kalian; karena yang demikian akan menjadi pembatas masuknya rahmat, penutup masuk cahaya dari taufik ke dalam hati”.

Kandungan tarbiyah

Al-ikhwan telah memberikan batasan konsep tarbiyah dan takwin sebagai berikut:

1. Metode yang bersinergi dalam berinteraksi denga fitrah manusia dalam bentuk arahan langsung; baik dengan kata-kata dan qudwah (ketauladanan), sesuai dengan manhaj dan sarana khusus untuk melakukan perubahan manusia untuk menjadi lebih baik.

2. Susunan pengalaman tarbiyah yang digerakkan oleh jamaah terhadap individu dengan tujuan untuk membantu mereka melakukan pertumbuhan yang komprehensip, integral dan seimbang dalam berbagai sisinya (iman dan akhlak, sosial dan politik, akal dan jiwa, tsaqofah dan seni, jasad dan ruh); dengan pertumbuhan yang mengarah pada perbaikan prilaku dan bekerja untuk mewujudkan tarbiyah sholihah yang diidam-idamkan.

3. Merubah manusia dari satu kondisi ke kondisi yang lain, dalam (pandangan dan ideologi, perasaan dan indra, tujuan dan sarananya), pembentukan yang menembus ruh, alam nyata dan rasa, bukan hanya dalam bentuk nyata saja, yang direfleksikan dalam perjuangan dan kesungguhan yang menyatu pada individu sosok yang ditarbiyah dan dari orang yang teguh dengan tarbiyah, mampu melintasi jalan pantang yang menyebar menyentuh setiap individu, keluarga dan masyarakat sesuai dengan system dan bangunan Islam yang integral; dengan memperhatikan piramida perubahan yang diidam-idamkan; “pengetahuan, perasaan dan prilaku” atau “jiwa, hati dan raga”, sebagai manhaj untuk melakukan pembentukan yang diawali oleh individu.

Karakteristik dan Keistimewaan Tarbiyah

Imam berkata tentang tarbiyah “Bahwa dakwah Al-Ikhwan memiliki keistimewaan khusus dengan karakteristik yang berbeda dari banyak dakwah lainnya; baik yang satu masa dengannya atau pada masa lainnya, dan diantara karekateristiknya adalah: “Perhatiannya terhadap pembentukan dan memiliki tahapan dalam setiap langkah-langkahnya”. Dan pembentukan dan tarbiyah yang kokoh menurut al-ikhwan memiliki ciri dan keistimewaan khas yang tidak boleh diingkari oleh para murabbi, yaitu diantaranya:

1. At-tarbiyah ar-robbaniyah (Tarbiyah Robbaniyah): Bahwa kita memiliki dakwah robbaniyah yang loyal kepadanya, dan diantara ciri khas dakwah robbaniyah ini adalah

a. Al-masdar ar-robbani (Sumber yang robbani), dengan artian bahwa dakwah ini menerima segala perintahnya dari Allah, berjalan sesuai dengan kehendak Allah, dan sesuai dengan apa yang telah diwajibkan-Nya atas kita

b. Al-Ittijah ar-robbani (Arah yang robbani), dengan artian bahwa kami hanya berharap segala usaha dan kerja kami hanya karena Allah dan mencari ridha-Nya, dan dari sini kami semua bebas dari berbagai tuduhan (seperti tujuan menghalalkan segala cara); karena kami berusaha menjadikan arah Robbani sebagai manhaj kami

c. Al-wasilah ar-robbaniyah (Sarana yang robbani); yaitu bahwa kami tidak berjalan dalam melakukan perubahan menggunakan sarana lain yang ditolak oleh syariat, sehingga mampu mewujudkan tujuan yang robbani.

2. At-tarbiyah As-syumuliyah (Tarbiyah Yang Menyeluruh): yaitu tarbiyah yabg mencakup berbagai potensi jiwa manusia (akal, perasaan dan prilaku), sehingga memberikan pembentukan pada segala potensi tersebut haknya dalam melakukan perubahan dan sempurna dalam melakukan proses perubahan tarbiyah, jika tidak maka perubahan yang kita lakukan merupakan perubahan yang sia-sia dan hampa, dan hanya menghasilkan individu yang hampa pula.

3. At-tarbiyah al-wastiyah (Tarbiyah Yang Moderat): yaitu tidak ada ifrat (pengurangan) dan tafrith (berlebihan) di dalamnya, tidak cenderung pada satu sisi terhadap kepentingan sisi tertentu, tidak berlebihan pada satu perkara dan mengindahkan perkara lainnya, namun menggunakan segala perkara dengan moderat, adil dan seimbang.

4. At-tarbiyah al-insaniyah (Tarbiyah Yang Manusiawi): yaitu terbiyah yang membuka interaksi dengan jiwa manusia bukan benda mati; yang dalam perjalanannya menggunakan sunnah ilahiyah dalam berinteraksi dengan jiwa manusia, dan menyadari bahwa setiap jiwa memiliki prinsip-prinsip, sendi-sendi, karakter, perasaan dan indra yang harus selalu diperhatikan.

5. At-tarbiyah al-manhajiyah (Tarbiyah Yang Bertahap): yaitu tarbiyah yang selalu bertahap dalam langkah-langkah dan fase pembentukannya sesuai dengan prinsip bertahap, dan sesuai dengan konsep yang tersusun rapi, tergambar dan jelas karakternya, tidak terburu-buru, tidak mendahului realita dan tidak melampaui tingkatan tangga tarbaiyah yang diidam-idamkan, karena barangsiapa yang tergesa-gesa sebelum tiba waktunya maka akan mengalami penyesalan.

6. At-tarbiyah al-mustamirrah (Tarbiyah Yang Berkesinambungan): Yaitu tarbiyah yang diawali dari semenjak kelahiran hakiki jiwa manusia; dengan konsep komitmen terhadap dakwah dan tarbiyah, bahkan bisa jadi dimulai pada umur balita, kemudian dilanjutkan sesuai dengan perjalanan hidupnya secara sistemik hingga akhir hayatnya; yaitu kerja tarbiyah yang tidak pernah berhenti “Dan Beribadahlah kepada Tuhanmu hingga datang kematian” (Al-Hijr: 99), karena itu seseorang tidak boleh menuduh bahwa dirinya memiliki tingkat paling atas (senioritas) dalam kerja tarbiyah bagaimanapun posisinya.

7. At-tarbiyah al-ijabiyah (Tarbiyah Yang Positif): Yaitu dakwah menuju cita-cita yang waqi’i dan efektivitas dalam kerja, terpokus pada pembahasan tentang jiwa yang positif, yang dimulai dari dalam diri, terpokus padanya dan berusaha meningkatkan potensi yang ada di dalamnya, menggelorakan jiwa yang positif dan konstruktif, efektif dan produktif, menyebarkan jiwa optimis dalam diri serta selalu memandang seperti gelas yang berisi air hampir penuh bukan kosong melompong.

8. At-tarbiyah al-waqi’iyah (Tarbiyah Yang Realistis): yaitu tarbiyah yang diawali dari jiwa seadanya, berkomunikasi sesuai dengan kondisi dan realita yang melingkupinya.

9. At-tarbiyah al-murunah (Tarbiyah Yang Elastis): yaitu tarbiyah yang sejalan dengan kondisi amal dakwah; individu dan masyarakat yang melingkupinya.

10. At-tarbiyah al-harakiyah (Tarbiyah Yang selalu dinamis dalam Bergerak): yaitu tarbiyah yang dibangun atas dasar pembinaan medan yang realistis, bukan sekedar ideology atau teori belaka.

11. At-tarbiyah ad-daqiqah wal amiqoh (Tarbiyah Yang Kokoh dan Mendalam): yaitu tarbiyah yang bukan hanya tampak pada permukaan, namun merasuk ke dalam lubuk hati manusia daalam berbagai ajaran, sarana dan bentuk-bentuknya.

Tujuan Tarbiyah

Imam Al-Banna juga telah menargetkan tujuan dari pembentukan yang kokoh dalam jama’ah, dan menjelaskan bahwa tarbiyah dan takwin menurut al-ikhwan memiliki dua tujuan:

1. Ghoyah qoribah (Tujuan jangka pendek)

Yaitu tujuan yang berkaitan dengan taklif ilahi terhadap setiap individu, yang berusaha dicapai sejak awal tarbiyah, berjalan di dalam lintas yang seimbang dan tidak tergesa-gesa dalam mewujudkannya, adapun bentuk tujuan yang dilakukan adalah (perbaikan individu muslim, pembangunan rumah tangga Islam, dan mengarahkan masyarakat pada kehidupan yang Islami) semua itu sesuai dengan syarat-syarat pembentukan, tarbiyah dan taghyir (perubahan), seperti yang dijelaskan oleh Imam Al-Banna, beliau berkata: “Bahwa pertama kali yang kami inginkan adalah bangkitnya ruh, hidupnya hati dan kebangkitan yang hakiki dalam jiwa dan perasaan, yang kami inginkan adalah jiwa yang selalu hidup, kuat dan semangat”.

2. Ghoyah ba’idah (Tujuan jangka panjang)

Yaitu tujuan yang berkaitan dengan taklif ilahi terhadap jamaah, dan boleh jadi sebagai fase selanjutnya, namun tidak boleh diabaikan, hal tersebut tercermin pada (pembentukan pemerintahan yang Islami, mengembalikan khilafah yang diidamkan hingga mencapai pada kepemimpinan dan guru bagi dunia seleuruhnya).

Wasaial tarbiyah (Sarana-sarana tarbiyah)

Jamaah Al-Ikhwan Al-Muslimun dalam dakwahnya juga menggunakan sarana yang beragam dalam rangka membangun dan membentuk setiap individu, sehingga memiliki pengaruh besar dalam menyiapkan dan mentarbiyah generasi selanjutnya dalam dakwah yang penuh berkah, menjadi generasi yang siap pakai (amil,aktivis) dan mujahid demi mencapai kemenangan agama ini, dan beliau telah menetapkan sarana tarbiyah yang digunakan sepanjang perjalanan dakwah yang tidak memiliki alternative lain dan tidak membutuhkan yang lainnya, dan sarana-sarana tersebut hingga saat ini masih relevan untuk diterapkan guna mewujudkan tarbiyah yang bersih dan moderat bagi setiap individu, dan jamaah telah menentukan bagi setiap sarana perannya dalam pembangunan dan takwin (pembentukan), yaitu:

1. Al-usrah:

Yaitu sebagai batu pertama dalam pembangunan dan pembentukan jama’ah, dan juga sebagai dasar pembentukan bagi setiap individu, dan bahkan sebagai sarana yang efektif dalam tarbiyah setiap individu melalui tarbiyah yang integral, mencakup seluruh sisi dan potensinya, dibentuk dengan formulasi Islam sesuai dengan kitab Allah dan sunnah rasul-Nya, dan sarana ini merupakan konsentrasi utama yang menjadi pijakan dalam pembangunan jama’ah pada tarbiyah yang sesuai dengan nidzam (system) usar; guna menjamin kelanggengan dan mempersiapkna individu pada pembentukan Islam yang intergral.

Oleh karena itu imam Syahid Hasan Al-Banna berkata: “Islam memotivasi terhadap pembentukan usar dalam keluarganya, mengarahkan mereka pada nilai-nilai yang mulia, mempererat ikatan diantara mereka, meningkatkan ukhuwah pada ucapan, konsep hingga ketingkat kerja dan aksi”, Hasan Al-Hudaibi juga berkata: “Tidaklah Nizham usar akan terbentuk kecuali mampu mewujudkan nilai-nilai Islam secara nyata di tengah al-ikhwan, jika mereka telah mampu mewujudkannya dalam jiwa mereka maka berhak bagi mereka menanti apa yang telah dijanjikan oleh Allah dengannya kepada orang-orang yang beriman akan kemenangan”.

Dan nizham usar dianggap sebagai bangunan yang kokoh bagi jama’ah; sehingga mampu melakukan tugas dan tanggung jawab serta kewajiban untuk merealisasikan kemengangan agama ini, serta mewujudkan kekuatan dan kemuliaan bagi umat Islam.

2. Al-kataib:

Bertujuan mentarbiyah ruh, melembutkan hati, membersihkan jiwa dan membiasakan jiwa dan raga untuk memenuhi panggilan ibadah secara umum, dan untuk tahajjud, dzikir, tadabbur, tafakkur secara khusus.

3. Rihlah:

Yang bertujuan memperkuat badan, memberikan rehat pada jiwa, memperkokoh hubungan antar anggota, memperdalam ikatan diantara mereka, sebagaimana juga bertujuan melatih anggota untuk bergantung pada jiwa, bersikap baik, menanggung beban dan komitmen dengan nizham, melatih disiplin dan mendapatkan pengalaman secara nyata.

4. Mu’askar:

Bertujuan mensibghah kehidupan seseorang dengan shibghah Islam pada fase dan hari-hari tertentu; sehingga mampu mendapatkan prilaku Islam dan adab-adab Al-Qur’an, melatih diri menjadi prajurit dengan berbagai bentuknya, baik ketaatan, system, ketahanan, kedisipilinan dan komitmen, sebagaimana juga melatih untuk mampu menanggung beban tanggung jawab secara nyata, memahami beban-bebannya dan kewajiban-kewajibannya.

5. Seminar-seminar:

Yaitu dengan memberikan kesempatan yang baik kepada setiap individu untuk mengikuti dan berpartisipasi dalam diskusi dan dialog, sebagaimana juga bertujuan memperdalam dan memperluas penumbuhan sisi ideology dan tsaqofah pada setiap individu dan menumbuhkan kesadaran, memperdalam pengetahuan terhadap permasalahan yang sedang terjadi.

6. Daurah-daurah:

Yaitu bertujuan meraih dan melatih individu pada keterampilan mendasar dan lazim dalam berbagai bidang dan aktivitas dakwah, sebagaimana juga bertujuan memberikan pengalaman dan eksperimen secara nyata dalam bentuk komunikasi yang efektif pada pemilik spesialis dan pengalaman.

7. Nadwah-nadwah:

Maksudnya adalah mempelajari permasalahan dan problematika yang sedang terjadi dan memahaminya dari berbagai sisi dan kiat berinteraksi dengannya, sebagaimana juga berfungsi memperdalam kesadaran pada setiap individu dan dalam rangka menyatukan persepsi mereka terhadap apa yang dapat diwujudkan pada persatuan konsep dan ideology.

Sarana-sarana tarbiyah ini, dengan keintegralan dan keuniversalannya menggambarkan akan kebenaran karakteristik manhaj tarbiyah menurut al-ikhwan al-muslimun, dan menunjukkan akan kecedasan pembangunan dan pembentukan menurut imam syahid Hasan Al-Banna, yang mampu menyatukan dan membina generasi para pemilik kesungguhan yang tinggi dan azimah yang kuat, dan orang yang mau berjalan diatas jalannya dan para duat disepanjang masa dan tempat.

Kaidah-kaidah pembentukan

1. Bahwa takwin (pembentukan) bertujuan membersihkan unsur-unsur yang baik untuk mampu menanngung beban jihad dalam mewujudkan tujuan dan misi-misi yang dengannya dakwah al-ikhwan tegak berdiri, dakwah pada fase pembentukan khususnya tidak akan sampai pada tujuannya kecuali bagi siapa yang memiliki persiapan yang hakiki untuk menanggung beban jihad sepanjang masa dan banyak pengikutnya.

2. Bahwa tujuan takwin yang asasi adalah membangun individu muslim yang integral dalam fikrah dan akhlak, jiwa dan prilaku; karena itu tarbiyah ruhiyah merupakan asas pembentukan.

3. Pembentukan kesadaran dalam tarbiyah mencakup: kesadaran akidah dengan tetap istiqomah pada jalan para salafusshalih, melindunginya dari perkara-perkara baru dan bid’ah, imam syahid berkata: “Harakah kita memiliki kedisiplinan dengan akidah, dan akidah kita tumbuh dengan harakah kita”; Kesadaran fiqh yang membawanya pada mengikuti nash yang benar dimana saja berada, tanpa dikuasai oleh lisan para muqollid; Kesadaran politik yang mampu menjauhkannya dari kungkungan musuh, membuka matanya akan bentuk-bentuk bahaya dan pandangan-pandangan yang menyimpang secara mendalam, dan agar menguasai kesempatan dan waktu yang potensial.

4. Bahwa tahapan dalam langkah merupakan dasar dan fiqh amal dalam dakwah al-ikhwan al-muslimun, seperti yang diucapkan oleh Imam Al-Banna dalam risalahnya : “Apakah kita merupakan kelompok aktivis”: hal itu jelas dan tampak dalam langkah-langkah yang dilakukan dalam jalan dakwah Islam yang pertama; maka Allah meletakkan manhaj yang tertentu yang dilakukan oleh umat Islam masa pertama –semoga Allah meridhai mereka- kepadanya dari dakwah secara sembunyi-sembunyi, kemudian mengiklankan dan memproklamirkan dakwah ini tanpa rasa lelah dan bosan, kemudian hijrah menuju hati yang subur dan jiwa yang siap siaga, sehingga membentuk persaudaraan diantara jiwa-jiwa tersebut, memperkokoh nilai-nilai keimanan di dalam hatinya, kemudian kembali memproklamirkan secara sungguh-sungguh, dan membersihkannya dari kebatilan menuju kebenaran”.

Buah Tarbiyah

Takwin yang dibangun oleh pemilihan para anshar dan mempersiapkan setiap individu, menyatukan shaf (barisan) diantara para mad’u yang mendengar seruan ini dan puas dengannya, dan akhirnya tarbiyah dalam dakwah al-ikhwan mampu memberikan buah positif dalam masyarakat dan umat secara keseluruhan, diantaranya:

1. Bergabungnya jamaah lebih dari satu setangah juta orang dalam dakwah ini pada masa pertama, mereka terbina diatas prinsip-prinsip dan nilai-nilai Islam, sehingga mereka menjadi pionir yang siap menjadi pembawa risalah dan duat bagi agama ini; mengorbankan jiwa dan harta mereka yang sangat harga di jalannya.

2. Mengubah prinsip-prinsip dari teori menjadi harakah, dari sekedar ideology pada kenyataan yang dapat dirasakan, dari sekedar risalah hingga membentuk generasi, dari sekedar manhaj hingga pada sosok pendakwah, berpindah dari keraguan syi’ar menuju syiar yang konkrit dan pasti hingga pengaruh dari tarbiyah adalah jelas: “Berani dalam kebenaran, istiqomah dalam akhlak, bangga dengan agama, bersungguh-sungguh dalam belajar, generasi baru yang gagah, tsaqofah Islam yang bersinar, terukur dalam penjelasan yang cemerlang”.

3. Keteguhan orang-orang yang tertangkap dan dibelenggu dirinya pada tahun 50 an dan 60 an, hingga mencapai lebih dari 35 ribu orang, namun mereka tetap teguh dan tegar dalam menghadapi ujian kecuali hanya dalam jumlah yang terbatas, hal ini merupakan sunah dalam dakwah, dan kelak sunnah ini akan terus berlangsung pada generasi demi generasi yang teguh dan tegar dalam dakwah, sekalipun dihadapkan pada hukum militer terhadap 7 orang seperti yang dialami dalam sejarah al-ikhwan hingga terakhir terjadi terhadap hukuman yang dijatuhkan pada Syathir dan teman-temannya.

4. Bergegasnya al-ikhwan untuk keluar ke medan jihad, berlomba dengan kesemangatan yang tinggi untuk meraih syahid di jalan Allah, sehingga beribu-ribu orang dari Mesir, negeri Syam, Iraq, Hijaz dan Yaman pergi untuk berjihad di Palestina tahun 1948.

5. Kembalinya jiwa pada berbagai nilai-nilai yang merupakan pengaruh dari generasi para sahabat dan tabi’in, seperti ruh ukhuwah yang unik, itsar yang jarang, kecintaan yang kuat kepada Allah dan pengorbanan yang agung… etc.

6. Bermunculan dan merebaknya “sekolah-sekolah tarbiyah dan takwin atas manhaj Islam yang universal dan agung” diseperempat dunia saat ini; sehingga menyebar lebih dari 90 negara yang mengikuti langkah dan manhaj tarbiyah al-ikhwan; menyeru kepada para generasi yang siap meneriman untuk menjadi salah satu muridnya, mengungkapkan janji dan mentarbiyahnya sehingga memiliki sifat-sifat seorang muslim yang benar dan sempurna.

7. Apa pengaruh tarbiyah Islam dalam pembentuk pemuda?! Kalianlah pengaruhnya, yaitu dengan berhasil menghancurkan keras jiwa manusia menjadi pemuda seperti kalian; pemuda yang berpegang teguh , kuat, patuh, tegar dan beriman; menjual dirinya untuk Allah; kalian adalah pemberi petunjuk yang hidup dalam tarbiyah Islam.. kalian adalah penyambung risalah Allah; karena seorang muslim yang hidup dan aktif adalah penyambung lidah Allah dimuka bumi ini”.. demikian ungkapan As-syahid Sayyid Qutb.

8. Bahwa jamaah ini memilki peran Islam yang sangat menakjubkan pada kehidupan setiap individu; baik anak-anak, remaja dan pemuda, menanamkan akhlak Islam berjuta orang, dan menjadikannya intisab (loyal) kepada Islam yang mulia dan banyak orang yang bangga dengannya, mendorong kantor-kantor, industri-industri, dan para pegawai untuk menjadi jamaah yang mengenal Allah dan takut kepada-Nya”.. ungkapan yang disampaikan oleh Ahmad Syalabi dalam enslikopedi sejarah.

9. Sesungguhnya imam Al-Banna berhasil mengeluarkan beribu-ribu pemuda Mesir dari café-café, tempat-tempat minuman keras dan narkoba; sehingga membuat dan mencetak diantara mereka para duat Islam, mengubah mereka dari kondisi sia-sia menjadi pemuda yang kuat dan mampu berpartisipasi dalam ranah politik, menjadi sekelompok orang yang lebih kuat dari pada partai-partai politik lain yang ada di Mesir”… kesaksian Carey Radezniskey, peneliti di universitas Harvard Amerika.

10. Imam Al-Banna memberikan kepada para pemuda Mesir yang terjerumus pada candu dan alkohol yang memabukkan untuk memiliki makna kehidupan yang baru, dari seputar ilmu yang selalu disampaikan pada setiap pertemuan, dan dari seputar bacaan mereka terhadap risalah Imam Al-Banna, sebagaimana ia juga mampu mengembalikan kesatuan para pemuda yang terperosok dalam kemalasan di tengah masyarakat Mesir sehingga menjadi cahaya yang aktif dalam kerja-kerja Islam”.. kesaksian DR. David Komonz pada di universitas Arkinson Amerika.

Dari risalah imam Al-Banna kepada seluruh ikhwan; baik para duat dan murabbi, para politikus dan pers, para penulis dan pemikir, para pejabat dan pegawai disampaikan” : Wahai para Ikhwan.. sesungguhnya kalian berada para periode pembentukan; maka janganlah kalian terpedaya dengan fatamorgana yang menipu akan persiapan yang baik dan sempurna.. berikanlah 90 % dari waktu kalian untuk melakukan pembentukan ini, alokasikanlah di dalamnya untuk jiwa kalian, dan jadikanlah sepuluh persen sisanya untuk segala urusan kalian; sehingga kokoh batang jiwa kalian, sempurnakanlah kesiapan kalian sehingga dapat menyeluruh wibawa kalian, dan pada saat itu Allah membukakan bagi kalian dan umat akan kebenaran, karena Allah sebaik baik pembuka jalan”.

Beliau juga memberikan kepada seluruhnya risalah: “Sesungguhnya jiwa pemuda itu tampak pada kesabaran dan keteguhan, maka bagi siapa yang memiliki Kesungguhan dan kerja yang terus menerus, maka bagi siapa yang tidak tergesa-gesa untuk mendapatkan buah sebelum matang, atau memetik bunga sebelum kuncup, dan dari kesabaran hingga tumbuh benih dan tumbuh pohonnya, memberikan kebaikan hingga datang pada penyeru, maka ganjrannya ada pada Allah, dan niscaya tidak luput dari kita akan salah satu dua kebaikan; apakah kemenangan dan kekuasaan, atau syahadah dan kebahagiaan

Senin, 05 Mei 2008

SA'ID BIN ZAID

Asww.
Mutiara Kehidupan Para Sahabat: Sa’id Bin Zaid; Sosok Pemberani Nan Gagah, Yang Memilki Do’a Makbul

Beliau adalah Sa’id bin Zaid –semoga Allah meridloinya- salah seorang dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, tumbuh di rumah dan keluarga yang tidak merasa asing akan iman, bapaknya bernama Zaid bin Amru bin Nufail yang sudah sejak lama meninggalkan sembahan berhala, dan kembali kepada menyembah Allah dan agama Ibrahim, dimana beliau pernah menyandarkan kepalanya di dinding Ka’bah dan berkata : “Wahai penduduk Quraisy, demi Allah tidak ada seorangpum selain saya yang mengikuti agama nabi Ibrahim”. (Ibnu Hisyam), Sa’id tumbuh yang semenjak kecilnya dengan agama yang suci seperti bapaknya, dan saat mendengar seruan Islam beliaupun segera memeluk Islam, yaitu pada saat Rasulullah saw masuk ke dalam Rumah Al-Arqom bin Abi Al-Arqam, bersama istrinya Fatimah binti Khattab.

Zaid banyak menanggung beban penyiksaan selama berada di jalan Allah, dimana keduanya yang menyebabkan Umar masuk Islam; saat Umar mendatangi rumahnya yang sedang membaca Al-Qur’an bersama Khabbab bin Al-Art, maka Umarpun mengambil Sohifah itu dari keduanya dan membaca isinya, hingga Allah memberikan kelapangan dadanya dan mengiklankan diri untuk masuk Islam.

Sa’id pernah hijrah ke Habsyah, kemudian Madinah, dan Rasulullah saw mempersaudarakan beliau dengan Ubay bin Ka’ab –semoga Allah meridloi keduanya-.

Rasulullah saw pernah mengutus beliau bersama Tolhah bin Ubaidillah untuk mengintai kafilah Quraisy yang pulang dari berniaga, dan saat keduanya melaksanakan tugas terjadilah perang Badar yang berakhir dengan kemenangan untuk kaum muslimin, kemudian keduanya pulang dan Rasulullah saw memberikan kepada keduanya bagian dari harta rampasan perang. Sa’id terkenal dengan keberaniannya dan kegagahannya, dan selalu mangikuti setiap peperangan.

Baliau termasuk seorang yang doanya selalu dikabulkan oleh Allah, diriwayatkan bahwa Arwa binti Uwais telah melakukan kebohongan dengan menuduh beliau merampas sebagian tanah miliknya, kemudian perempuan itu pergi ke Marwan bin Al-Hakam yang saat itu menjabat sebagai gubernur Madinah, dan mengadukan permasalahannya, maka Marwanpun mengutus seseorang kepada Sa’id untuk menghadap kepadanya, lalu Marwan berkata kepadanya : Sesungguhnya wanita ini menuduh engkau telah merampas tanahnya, Sa’id berkata : Bagaimana mungkin saya menzhaliminya sedangkan saya pernah mendengar Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa yang melakukan kezhaliman sejengkal maka akan ditimpakan kepadanya beban dari tujuh langit”. (Muttafaqun alaih), Marwan berkata : “Jadi engkau harus bersumpah”, Sa’id berkata : “Ya Allah jika wanita ini berdusta, maka janganlah engkau matikan dia kecuali matanya lebih dahulu buta, dan menjadikan kuburnya di sumur kemudian meninggalkan tanah yang diklaim sebagai miliknya kuburannya”. Setelah waktu berjalan, mata Arwa menjadi buta dan selalu dituntun oleh budaknya, dan pada suatu malam dia bangun dari tidurnya sedangkan budaknya belum bangun lalu berjalan dan dirinya tercebur ke dalam sumur yang ada di dalam rumahnya lalu mati dan dijadikan sumur itu sebagai kuburnya.

Sa’id adalah sahabat yang sangat terkenal dikalangan manusia, beliau mencintai mereka dan merekapun mencintainya, dan saat terjadi fitnah dikalangan umat Islam beliau tidak ikut di dalamnya, beliau sangat tekun dalam ketaatan kepada Allah dan beribadah kepada-Nya hingga akhir wafatnya pada tahun 51/52 Hijriyah dan dikuburkan di Madinah Al-Munawwarah.

Senin, 28 April 2008

TUDUHAN


د. عبد الحي الفرماوي ينفي التهم الملفقة له

[00:00مكة المكرمة ] [28/04/2008]


د. عبد الحي الفرماوي

كتبت- دعاء وجدي




قررت نيابة أمن الدولة العليا بالتجمع الخامس عرض د. عبد الحي الفرماوي وكيل كلية أصول الدين وأستاذ التفسير وعلوم القرآن بجامعة الأزهر على النيابة يوم 4 مايو القادم؛ حيث يقضي الفرماوي الآن مدة الـ 15 يومًا حبسًا على ذمة التحقيقات في سجن مزرعة طره، وذلك بعد انتهاء تحقيقات معه دامت لمدة 4 أيام منذ أن تم القبض عليه يوم الأربعاء الماضي.



وأكد عمرو سيد أحد أعضاء هيئة الدفاع عن د. الفرماوي أن التحقيقات جاءت ملفقة، وأنها بدأت بدون علم هيئة الدفاع، وبدون حضورهم بما يخالف القانون.



وقال إن د. الفرماوي أنكر جميع التهم الموجهة إليه من قِبَل النيابة، ومنها التخابر مع جهة أجنبية "حماس"، ودعم وتمويل حماس بالأموال، والسفر إلى غزة وتسليم أموال للفلسطينيين هناك، كما أنكر الفرماوي معرفته بشاهد الإثبات ضده الذي أحضرته النيابة من العريش.

Selasa, 22 April 2008

SIRAH NABAWIYAH

Studi Kritis terhadap Sejarah Nabi Muhammad saw
Ditulis pada Juli 24, 2007 oleh kajianislam

Studi Kritis terhadap Sejarah Nabi Muhammad saw

Jalaluddin Rakhmat

“As narrative is constructed, narrative constructs.”

Linda C. Garro & Cheryl Mattingly

Waktu itu masih era Orde Baru. Para cendekiawan Islam berkumpul di rumah Alwi Shihab. Saya menyampaikan makalah tentang perlunya ijtihad. Saya kutip riwayat dari tarikh Thabari berkenaan dengan kelakuan Khalid bin Walid yang membunuh Malik bin Nuwairah dan menikahi jandanya tanpa iddah. Apa yang dilakukan Khalid itu disebut oleh Abubakar ijtihad dan oleh Umar perzinahan. Salah seorang Kiyai yang hadir di situ bangkit dan marah-marah. Ia menuding saya berdusta. Saya yakinkan dia bahwa saya hanya sekedar mengutip Thabari. Katanya, Thabari itu Syi’ah; padahal kodok pun tahu bahwa Thabari itu Ahli Sunnah (kata kawan saya yang lain sambil bergurau).

Malam itu saya menyadari bahwa paling tidak ada dua versi atau pembacaan sejarah Islam, sesuai dengan mazhabnya. Pada pembacaan kawan saya, kisah sahabat nabi adalah kisah manusia-manusia suci. Mereka adalah umat pilihan yang dijamin masuk surga, generasi terbaik dalam sejarah Islam. Jadi, bila ia membaca riwayat yang menunjukkan perilaku buruk sahabat ia akan menisbahkannya pada pembuat kebohongan. Untuk saya, sahabat Nabi adalah generasi Islam pertama yang berbeda-beda dalam keimanan dan keilmuannya, sesuai dengan pangalaman mereka bersama Nabi saw. Ada sahabat yang menyertai nabi sejak lahir; dan ada sahabat yang bertemu dengan Nabi satu atau dua hari saja. Ada yang cerdas dan ada yang tidak. Ada yang benar memahami Nabi dan ada juga yang tidak.



Masih pada zaman Orde Baru, seorang Kiyai sepuh di Bangil dihujat ulama lainnya. Ia dimaki-maki di mimbar-mimbar jumat dan pengajian. Pasalnya, ia menerbitkan buku dengan judul Rasulullah saw Tidak Bermuka Masam. Kiyai itu menolak cerita umum tentang sahabat buta. Konon, Abdullah bin Ummi Maktum datang menemui Nabi untuk belajar Islam. Nabi sedang berada di tengah-tengah kaum aristokrat Quraisy. Nabi merasa terganggu oleh kehadiran si buta. Ia memalingkan wajahnya sambil bermuka masam. Allah langsung menegurnya: Ia bermuka masam dan berpaling; karena datang kepadanya orang buta (QS 80:1-2). “Ia di situ bukan Nabi saw,” kata Kiyai sepuh itu. Lalu, ia menuturkan kisah Nabi yang tidak pernah berpaling dari kaum miskin. Kalau begitu, siapa “ia” yang dimaksud dalam ayat itu? Tergantung versi cerita yang Anda pilih.

Cerita, kisah, atau dongeng secara ilmiah disebut naratif. Manusia adalah makhluk yang suka bercerita dan membangun hidupnya berdasarkan cerita yang dipercayainya. Kita menerima cerita dan menyampaikan cerita. Tanpa cerita, hidup kita carut marut. Dengan cerita, kita menyusun dan menghimpun pernik-pernik hidup kita yang berserakan. Naratif, kata filusuf Jerman Dilthey, adalah pengorganisasian hidup (Zusammenhang des Lebens). Hidup yang tersusun dalam naratif adalah bios, yang berbeda dengan sekedar hidup biologis saja, atau zoe. Hannah Arendt, pemikir besar abad kedua puluh berkata, “Karakteristik utama kehidupan khas manusia…ialah selalu penuh dengan peristiwa-peristiwa yang pada akhirnya bisa diungkapkan sebagai cerita… Kehidupan seperti inilah, bios, sebagaimana dibedakan dari zoe, yang dimaksud oleh Aristoteles sebagai ‘sejenis tindakan, praxis’’.

Apa pun yang membantu kita memberikan makna –pendapat, aliran pemikiran, mazhab, agama- selau didasarkan pada cerita-cerita besar, grand narratives. Kisah tentang kehidupan Nabi adalah salah satunya. Kita mendengarkan kisah-kisah Nabi dan mencritakannya kepada orang lain. Kita berusaha menjalani kehidupan dan menemui kematian nanti berdasarkan padanya. Begitu besarnya pengaruh naratif –lebih-lebih yang berkenaan dengan Nabi- pada pikiran, perasaan, dan perilaku kita, sehingga kita tidak segan-segan untuk “berperang” melawan siapa pun yang menyampaikan cerita yang tidak kita terima.

Sepanjang sejarah, kaum muslim tidak pernah berhenti untuk mengulang-ulang kisah Nabi. Berbagai karya –prosa dan puisi- telah ditulis tentang Nabi. Berbagai lagu, pertunjukan, acara, ritus dilakukan untuk membacakan kisah Nabi. Yang mengerikan ialah kenyataan bahwa para penguasa –demi kepentingan politiknya- selalu aktif menyebarkan kisah-kisah Nabi dengan kemasan yang dirancangnya. Dalam buku al-Mustafa: Pengantar Studi Kritis Tarikh Nabi saw, saya mengutip pernyataan Syaikh Muhammad Abduh, tokoh pembaharu Islam Abad XX:

“Tidak pernah Islam ditimpa musibah yang lebih besar dari apa yang diada-adakan oleh para pemeluknya dan oleh kebohongan-kebohongan yang dibuat oleh orang-orang ekstrim. Ini telah menimbulkan kerusakan dalam pikiran kaum Muslimin dan prasangka buruk dari non-Islam terhadap tonggak-tonggak agama ini. Dusta telah menyebar berkenaan dengan agama Muhammad sejak abad-abad yang pertama, sudah diketahui sejak zaman para sahabat, bahkan kebohongan sudah tersebar sejak zaman Nabi Saw…

Namun bencana kebohongan yang paling merata menimpa manusia terjadi pada masa pemerintahan Umawiyyah. Banyak sekali tukang-tukang cerita dan sangat sedikit orang-orang yang jujur. Karena itulah, sebagian sahabat yang mulia banyak yang menahan diri untuk tidak meriwayatkan hadis kecuali kepadaorang yang mereka percayai karena kuatir terjadi perubahan pada hadis yang mereka sampaikan… Imam Muslim meriwayatkan dalam mukadimah Shahih-nya ucapan Yahya bin Said al-Qaththan:”Aku tidak pernah melihat orang baik yang lebih pembohong dalam meriwayatkan hadis selain Bani Umayyah.”Lalu menyebarkah keburukan karena dusta.

Dalam perkembangan zaman berkembanglah dusta, makin lama makin berbahaya. Siapa saja yang menelaah mukadimah Imam Muslim, ia akan tahu betapa susah payahnya Muslim untuk menyeleksi hadis dalam penyusunan kitab Shahih-nya. Ia harus bekerja keras untuk menyingkirkan apa yang dimasukkan orang-orang ke dalam agama padahal tidak berasal daripadanya…Orang-orang yang masuk ke dalam Islam itu terbagi kepda beberapa golongan. Pertama, orang-orang yang meyakini agamanya, tunduk kepada ajarannya dan mengambil cahaya daripadanya. Mereka itulah orang-orang yang tulus. Kedua, kaum yang datang dari berbagai aliran mengambil nama Islam, baik karena ingin memperoleh keuntungan daripadanya atau karena takut akan kekuatan para pemeluknya, atau yang ingin memperoleh kemegahan dengan menisbatkan diri kepadanya. Mereka memakai Islam di luarnya, padahal Islam tidak masuk ke lubuk hatinya. Mereka itulah yang digambarkan Tuhan di dalam Al-Qur’an: Orang-orang Badwi itu berkata;”Kami telah beriman.”Katakanlah (kepada mereka):”Kamu belum berimanm tetapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu… (QS.Al-Hujurat [49]:14).

Ketiga, di antara mereka ada yang berlebih-lebihan dalam melakukan riya sampai orang banyak mengira bahw mereka termasuk orang-orang yang takwa. Jika orang-orang mulai percaya kepadanya, mulailah ia meriwayatkan kepada orang banyak hadis-hadis agamanya yang disandarkan kepada Nabi Saw atau sebagian sahabat. Dari sini muncullah semua berita Israilliyyat, dan komentar-komentar Taurat yang dimasukkan ke dalam kitab-kitab Islam sebagai hadis-hadis nabawi. Di antara mereka ada yang sengaja membuat hadis-hadis palsu yang jika diterima oleh orang-orang yang mempercayainya dapat merusak akhlak, mendorong orang untuk merendahkan syariat dan menimbulkan keputusasaan dalam membela kebenaran; seperti hadis-hadis yang menunjukkan berakhirnya Islam, atau mengharapkan ampunan Allah dengan berpaling dari syariat-Nya, atau berserah diri kepada takdir dengan meninggalkan akalnya. Semua itu dibuat oleh para pendusta untuk menghancurkan kaum Muslimin, memalingkan mereka dari pokok agama mereka , meluluh-lantakkan sistem dan kekuatan mereka

Di antara para pendusta itu ada orang-orang yang menambah-nambah hadis dan memperbanyak pembicaraan sekehendak mereka karena mengharapkan pahala, padahal sebetulnya hanya memperoleh siksa. Itulah orang-orang yang disebutkan oleh Muslim dalam Shahihnya, “Tidak aku lihat orang-orang saleh yang lebih pendusta dari mereka dalam meriwayatkan hadis.” Yang dimaksud dengan “orang-orang saleh” adalah mereka yang memanjangkan jubahnya, merundukkan kepalanya, merendahkan suaranya dan pergi ke masjid pagi dan petang, padahal mereka adalah orang-orang yang secara ruhaniah paling jauh dari masjid yang mereka datangi. Mereka menggerakkan bibir mereka dengan zikir, dan memutar-mutar tasbih di tangan mereka. Tetapi seperti kata Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as., “Mereka menjadikan agama sebagai penutup hati nurani dan pengunci akal pikiran. Mereka adalah orang-orang yang tertipu yang berbuat buruk tapi mengira bahw mereka berbuat baik… Musuh yang pintar lebih baik dari penggemar yang bodoh.”

Para penguasa politik menciptakan naratif Nabi yang sesuai dengan kepentingan politiknya. Para pendusta yang tampak saleh mencemari naratif Nabi dengan imajinasinya. Dongeng-dongeng mereka masuk ke dalam perbendaharaan hadis. Hadis adalah berita tentang perkataan, perbuatan, ketetapan, dan sifat-sifat –fisik dan mental- yang dinisbahkan kepada Nabi saw. Hadis adalah bahan utama tarikh Nabi. Bila sebagian sumber hadis adalah rekaan para penguasa dan para pendusta, apa yang terjadi pada tarikh Nabi? Kita menemukan naratif Nabi yang tidak menggambarkan kesucian, kemuliaan, dan keagungan Nabi. Bayangkan biografi Anda ditulis oleh musuh-musuh Anda atau para pendusta yang membonceng pada kemuliaan Anda? Kisah-kisah Nabi seperti itu bertebaran pada kitab-kitab hadis dan tarikh. Kaum muslim menerimanya tanpa kritis. Kaum munafik membacanya dengan senang. Peneliti non-Muslim berusaha memahaminya dengan latar belakang kebudayaannya.

Dalam hubungan inilah, Karen Armstrong menulis Muhammad: Prophet for Our Time. Ia punya reputasi baik sebagai pengamat Islam yang sangat simpatik kepada Islam. Dalam banyak tulisannya, ia berusaha keras menunjukkan kesalah-pahaman Barat kepada Islam. Inilah komentar penerbit untuk bukunya yang pertama, Muhammad: A Biography of the Prophet: This vivid and detailed biography strips away centuries of distortion and myth and presents a balanced view of the man whose religion continues to dramatically affect the course of history. Biografi yang hidup dan terperinci ini menghapuskan distorsi dan mitos yang sudah berlangsung berabad-abad dan menyampaikan pandangan seimbang tentang manusia yang agamanya terus-menerus secara dramatis mempengaruhi jalannya sejarah. Dalam buku yang Anda baca sekarang ini, Armstrong juga ingin menampilkan Muhammad sebagai sosok paradigmatik yang datang pada “dunia yang penuh cacat”. “Perjalanan hidupnya”, tulis orang yang mengaku “freelance monotheist” ini, “menyingkapkan kerja Tuhan yang misterius di dunia, dan mengilustrasikan ketundukan sempurna…yang harus dilakukan setiap manusia kepada yang ilahi.”

Walaupun begitu, sebagai penyampai naratif besar, Armstrong yang mantan biarawati ini tidak bisa melepaskan dirinya dari latar belakang kebudayaannya. Sebagai orang yang pernah mengambil doktor dalam kesusatraan Inggris, ia tentu sangat sadar dalam memilih diksi dan kalimat naratifnya, dalam menjalin plot dan tema ceritanya. Semuanya dirancang untuk menarik para pembaca sasarannya, orang-orang Barat. Tengoklah bagaimana ia menceritakan perkawinan Muhammad dengan Ummu Salamah. Mula-mula Ummu Salamah enggan menikah dengan Nabi karena sangat mencintai suaminya yang baru saja syahid. Tetapi ketika Muhammad tersenyum dengan “senyuman yang sangat memikat, yang membuat hampir setiap orang luluh” (hal 210), Ummu Salamah menerima lamarannya. Begitu pula kisah perkawinan Nabi dengan Zainab. Seperti penulis-penulis Barat lainnya, Karen Armstrong menuturkannya seperti kisah percintaan Daud dengan istri Uria dalam Alkitab. Gaya penuturan seperti itu rada sulit dilakukan oleh penulis tarikh yang Muslim.

Pada kisah Ummu Salamah, ia menceritakan kembali apa yang dibacanya dalam buku-buku tarikh orang Islam dengan “bumbu-bumbu penyedap” sekedarnya. Pada kisah Zainab, ia mengutip –malangnya- kisah-kisah dalam hadis-hadis dan kitab-kitab tarikh tanpa sikap kritis. Dalam buku ini, ada banyak kisah seperti kisah Zainab; yakni, naratif Nabi yang tidak menggambarkan kesucian, kemuliaan, dan keagungan Nabi. Kita tidak bisa sepenuhnya menimpakan kesalahan kepada Armstrong. Ia toh hanya mengutip dari sumber-sumber rujukan yang dipercaya oleh orang-orang Islam juga. Kesalahan –mungkin lebih tepat- kelemahan utama Armstrong ialah mengutip dari buku-buku tarikh dalam terjemahan bahasa Inggrisnya. Itu pun terbatas pada sumber-sumber Ahli Sunnah, yang diterimanya tanpa kritik.

Tidak mungkin saya membahas semua kisah itu dalam pengantar ini. Saya memilih dua naratif besar saja: kisah turunnya wahyu pertama dan kisah ayat-ayat setan (gharaniq). Pada kisah wahyu pertama, siapa pun yang mencintai Nabi akan “tersinggung” dengan penuturan berikut ini:

Ketika Muhammad tersadar, dia begitu masygul memikirkan bahwa, setelah semua upaya spiritualnya, dia ternyata dirasuki oleh jinni sehingga dia tak lagi ingin hidup. Dalam keputusasaannya, dia lari dari gua dan mulai mendaki ke puncak gunung untuk melontarkan dirinya hingga mati.(hal 60)

Tapi kisah Nabi yang meragukan kenabiannya, dicekik sampai kehabisan nafas, lari tunggang langgang, diyakinkan oleh isterinya dan para pendeta Kristen adalah naratif yang banyak kita baca dalam sumber-sumber kitab tarikh kita. Saya akan menampilkan naratif lain, sambil masih merujuk pada sumber-sumber yang sama, dengan tambahan kritik.

Kisah ayat-ayat setan juga tidak bisa dilewatkan. Pertama, karena kita sudah memaki Salman Rushdie sampai ke tulang sumsumnya sambil melupakan untuk mengkaji secara kritis sumber-sumber rujukannya. Kedua, karena menerima penuturan Armstrong –sekalipun merujuk sumber-sumber Islam- tentang ayat-ayat setan sekali lagi dapat melucuti kemuliaan dan kesucian Nabi saw. Siapa pun yang mencintai Nabi yang suci dapat berguncang hatinya karena penuturan berikut ini:

Ketika Muhammad membacakan ayat-ayat yang diragukan nafsunyalah yang berbicara –bukan Allah- dan dukungan terhadap dewa-dewi ini terbukti merupakan sebuah kekeliruan. Seperti semua orang Arab lain, dia secara alamiah menisbahkan kesalahannya kepada shaytan. (hal 93).

Karena itu sebelum mengadakan demonstrasi mengutuk Armstrong, sebaiknya kita mengkaji kedua kisah tadi. Kita mulai dengan kisah wahyu pertama. Riwayat Wahyu Pertama.

Riwayat yang sering kita dengar tentang Rasulullah ketika menerima wahyu pertama berasal dari Shahih al-Bukhari, hadis nomor 3.

“ Dari Aisyah, Ummul Mukninin ra, katanya;”Wahyu yang mula-mula turun kepada Rasulullah Saw ialah berupa mimpi baik waktu beliau tidur, Biasanya mimpi itu terlihat jelas oleh beliau, seperti jelasnya cuaca pagi. Semenjak itu hati beliau tertarik hendak mengasingkan diri ke Gua Hira. Di situ beliau beribadat beberapa malam, tidak pulang ke rumah istrinya. Untuk itu beliau membawa perbekalan secukupnya. Setelah perbekalan habis, beliau kembali kepada Khadijah, untuk mengambil lagi perbekalan secukupnya. Kemudian beliau kembali ke Gua Hira, hingga suatu ketika datang kepadanya Al-Haq (kebenaran atau wahyu), yaitu sewaktu beliau masih berada di Gua Hira itu.

Malaikat datang kepadanya, lalu katanya, “Bacalah!”

Jawab Nabi,”Aku tidak pandai membaca.”

Kata Nabi selanjutnya menceritakan,”Aku ditarik dan dipeluknya sehingga aku kepayahan. Kemudian aku dilepaskannya dan disuruhnya pula membaca.

“Bacalah!”katanya.

Jawabku, “Aku tidak pandai membaca.”

Aku ditarik dan dipeluknya pula sampai aku kepayahan. Kemudian aku dilepaskannya dan disuruhnya pula membaca,”Bacalah!”

Kujawab,”Aku tidak pandai membaca.”

Aku ditarik dan dipeluknya untuk ketiga kalinya, kemudian dilepaskannya seraya berkata:

“Iqra’bismi rabbikalladzi khalaq.Khalaqal Insana min ‘alaq

Iqra! Wa rabbukal akram

(Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menjadikan. Yang menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Demi Tuhanmu yang Mulia.)

Setelah itu Nabi pulang ke rumah Khadijah binti Khuwailid, lalu berkata,”Selimuti aku! Selimuti aku!”

Lantas diselimuti oleh Khadijah, hingga hilang rasa takutnya.

Kata Nabi Saw kepada Khadijah (Setelah dikabarkannya semua kejadian yang dari dialaminya itu). “Sesungguhnya aku cemas atas diriku (akan binasa).”
Kata Khadijah,”Jangan takut! Demi Allah! Tuhan sekali-kali tidak akan membinasakan Anda. Anda selalu menghubungkan tali persaudaraan, membantu orang yang sengsara, mengusahakan (mengadakan) barang keperluan yang belum ada, memuliakan tamu, menolong orang yang kesusahan karena menegakkan kebenaran.”

Setelah itu Khadijah pergi bersama Nabi menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, yaitu anak paman Khadijah, yang telah memeluk gama Nasrani (Kristen) pada masa jahiliyyah itu. Ia pandai menulis buku dalam bahasa Ibrani. Maka disalinnya Kitab Injil dari bahasa Ibrani seberapa dikehendaki Allah dapat disalinnya. Usianya telah lanjut dan matanya telah buta.

Kata Khadijah kepada Waraqah,”Hai, anak pamanku! Dengarkanlah kabar dari anak saudara Anda (Muhammad) ini.”

Kata Waraqah kepada Nabi, “Wahai anak saudaraku!Apakah yang telah terjadi atas diri Anda?”

Lalu Rasulullah Saw menceritakan kepadanya semua peristiwa yang telah dialaminya.

Berkata Waraqah, “Inilah Namus(Malaikat) yang pernas diutus Allah kepada Nabi Musa. Wahai, semoga saya masih hidup ketika itu, yaitu ketika Anda diusir oleh kaum Anda.”

Maka bertanya Rasulullah Saw,”Apakah mereka akan mengusirku?”

Jawab Waraqah,”Ya, betul! Belum pernah seorang jua pun yang diberi wahyu seperti Anda, yang tidak dimusuhi orang. Apabila saya masih mendapati hari itu, niscaya saya akan menolong Anda sekuat-kuatnya.”

Tidak berapa lama kemudian, Waraqah meninggal dunia dan wahyu pun terputus untuk sementara waktu,”

Hadis ini, dengan beberapa hadis semakna, diriwayatkan oleh Muslim dan kitab-kitab tarikh seperi Tarikh Thabari, Tarikh al-Khamis, Al-Sirah al Nabawiyyah, al-Sirah al-Halabiyayah. Ada beberapa kemusykilan pada riwayat ini, baik dari segi sanad maupun matan.

Pada sanad riwayat itu disebutkan Al-Zuhri, Urwah bin Zubayr, dari Aisyah. Al-Zuhri adalah ulama penguasa yang berkhidmat pada Hisyam bin Abd al-Malik. Ia mengajar anak-anak Hisyam. Ia terkenal sangat membenci Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Pernah ia duduk berdua dengan Urwah di Masjid Madinah dan memaki-maki Ali. Sampailah berita itu kepada Imam al-Sajad. Ia datang menegurnya sambil berkata,”Hai Urwah, ayahku pernah bersengketa dengan ayahmu; ayahku benar dan ayahmu salah. Adapun engkau, hai Zuhri, sekiranya engkau berada di Makkah, akan kutunjukkan gubuk bapakmu.”Kisah Ayat-ayat Setan

Nanti Anda akan membaca kisah ayat-ayat setan versi Armstrong pada hal 92-96 buku ini. Tentu saja ia tidak menerjemahkannya secara harfiah. Ia memasukkan juga gaya penuturannya sendiri, lepas dari naratif awalnya. Di bawah ini saya kutipkan terjemahan saya:

Dari Ibn Jubayr al-Thabari dengan sanad yang dianggapnya sahih, dari Muhammad bin Ka’ab, Muhammad bin Qays, Sa’id bin Jubayr, Ibn ‘Abbas dan lain-lainnya: Nabi saw sedang duduk bersama orang musyrik Quraisy di halaman Ka.bah, di tengah-tengah kumpulan mereka. Terbersit dalam hatinya sekiranya ada sesuatu dari Al-Quran yang dapat mendekatkan dirinya dengan para pemuka kaumnya. Ia merasa prihatin karena dijauhi mereka. Ia berharap berbaikan dengan mereka lagi betapa pun beratnya. Tiba-tiba turun kepadanya surat Al-Najm. Maka ia pun membacanya. Ketika sampai pada ayat: Tidakkah kamu Al-Lata, al-‘Uzza, dan Manat yang ketiga yang lainnya (QS 53:19-20, Setan membisikkan kepadanya: Itulah burung-burung Gharaniq yang mulia. Sesungguhnya syafaatnya benar-benar diharapkan. Ia mengiranya wahyu. Ia membacanya di hadapan tetua Quraisy. Kemudian ia meneruskan bacaannya sampai selesai surat. Setelah selesai, ia bersujud. Bersujudlah kaum muslim. Bersujud juga kaum musyrik untuk menghormati persetujuan Muhammad untuk memuliakan Tuhan-tuhan mereka dan mengharapkan syafaatnya.

Menyebarlah berita itu sehingga sampai kepada kaum muslim yang hijrah ke Habsyi. Mereka pun kembali ke negeri mereka Makkah, berbahagia dengan perdamaian yang mendadak ini. Nabi juga bergembira karena tercapai cita-citanya untuk mendamaikan umatnya. Diriwayatkan bahwa setan putihlah yang datang kepada Nabi dalam bentuk malaikat Jibril dan menyampaikan dua kalimat tadi. Diriwayatkan juga bahwa Nabi saw sedang salat di Maqam Ibrahin. Tiba-tiba ia diserang kantuk. Keluarlah dari lidahnya dua kalimat tadi tanpa terasa. Diriwayatkan pula bahwa Nabi saw berbicara dari dalam hatinya sendiri, karena keinginannya untuk merebut hati kaum musyrik. Setelah itu, ia menyesali perbuatannya karena berdusta atas nama Allah. Diriwayatkan lagi bahwa setanlah yang memaksa Nabi untuk mengucapkan dua kalimat itu.

Ketika malam tiba, Jibril datang kepadanya. Ia berkata: Bacakan kepadaku surat itu. Nabi saw membacanya dan ketika sampai pada dua kalimat itu, Jibrail berkata: Wah darimana dua kalimat itu. Rasulullah saw menyesal. Jibril berkata: Engkau berdusta kepada Allah. Engkau mengucapkan atas nama Allah apa yang tidak Dia ucapkan? Nabi bersedih luar biasa. Ia takut kepada Allah dengan ketakutan yang bukan main.

Diriwayatkan Nabi saw membantah Jibril: Ada orang yang datang padaku dalam bentukmu dan memasukkannya pada lidahku. Jibril berkata: Aku mohon perlindungan kepada Allah aku akan mengucapkan dua kalimat itu. Rasulullah saw merasa sangat galau. Lalu turunlah ayat:Tujuan mereka ialah memalingkan kamu dari apa yang telah Kami turunkan kepadamu agar kamu menggantikan atas namaKu dengan sesuatu yang lain. Dengan begitu mereka dapat mengambilmu sebagai sahabat. Sekiranya tidak Kami teguhkan kamu, pastilah kamu akan cenderungkepada mereka sedikit. Jika begitu, Kami akan menimpakan kepadamu dua kali hukuman, hukuman pada waktu hidup dan hukuman pada waktu mati. Kemudian kamu tidak akan mendaptkan penolong bagimu untuk melawan Kami (QS 17:73-75).

Dengan menggunakan ilmu-ilmu hadis, kita yakin bahwa riwayat di atas memang dibuat-buat (mawdhu’, mukhtalaq). Pertama, sanad hadis ini terputus sampai kepada tabi’in, pengikut sahabat. Artinya, silsilah hadis ini tidak sampai kepada sahabat yang menyaksikan kejadian itu. Ada juga yang menunjuk kepada Ibnu ‘Abbas. Ibnu Abbas lahir tiga tahun sebelum hijrah, sedangkan peristiwa ini terjadi pada awal-awal kenabian. Dengan demikian, hadis ini disebut mursal dan tidak boleh dipercayai. Anehnya, Ibnu Hajar mengecam orang yang tidak mau menerima riwayat ini. Ia berargumentasi walau hadis ini lemah, karena diriwayatkan banyak orang ia dapat dijadikan petunjuk! Dalam tempat lain, ia sendiri berkata: Semua jalan (thuruq) hadis ini –kecuali yang lewat Ibn Zubayr- dha’if atau munqathi’.

Ahmad bin al-Husayn al-Baihaqi, salah seorang ulama besar Syafi’i berkata: Hadis ini dari segi penyampaian tidak kokoh (benar) dan para periwayatnya tercela. Abu Bakar ibn Arabi berkata: Semua yang diriwayatkan Thabari berkenaan dengan riwayat itu batal tidak ada asal-usulnya. Al-Fakhr al-Razi dalam tafsirnnya memberikan komentar: Inilah riwayat yang popular di kalangan mufasir. Tetapi para peneliti yakin bahwa hadis ini bathilah mawdhu’ah (batil dan dibuat-buat). Mereka menentangnya baik secara aqli maupun naqli.

Senin, 21 April 2008

KELAPARAN DI AFRIKA


Asww.


خطب ومحاضرات : خطب الجمعة

القرضاوي: الجوعى يستحقون الإطعام لا الضرب والاعتقال

موقع القرضاوي/ 20-4-2008

الدوحة- انتقد فضيلة العلامة د. يوسف القرضاوي رئيس الاتحاد العالمي لعلماء المسلمين تصدي الشرطة بالقوة لمظاهرات الجوعى في بعض الدول وضرب المشاركين فيها بالهراوات والقنابل المسيلة للدموع وسجنهم واعتقالهم، قائلا "إن المشكلات يجب أن تعالج من جذورها".

وقال الشيخ القرضاوي في خطبة الجمعة الماضية التى ألقاها بجامع عمر بن الخطاب بالدوحة معلقا على ظواهر الإضرابات والاعتصامات والاحتجاجات التي نظمت في كثير من الدول العربية في الآونة الأخيرة بسبب غلاء الأسعار والمطالبة بزيادة الأجور: "إن الجائع يستحق الإطعام ولا يستحق الضرب والاعتقال".

واعتبر فضيلة الشيخ أن الاعتصامات والمظاهرات "حق مشروع للجوعى"، وطالب بتدخل الحكومات لوقف ارتفاع الأسعار وحماية الفقراء.

ودعا فضيلة الشيخ "من قلدهم الله زمام المسئولية أن يبحثوا عن حاجات الناس ويفكروا في طريقة معالجتها من جذورها".

غير أنه استدرك مضيفا: "لا نريد اقتصادا موجها مثل الاقتصاد الشيوعي، ولا نريد اقتصادا مستغلا مثل الدول الرأسمالية، نريد اقتصادا وسطا يكبح جماح الارتفاع الجنوني في الأسعار".

الرقابة الشعبية

وأيد الشيخ القرضاوي تدخل بعض الدول لتسعير السلع ومنع الارتفاع غير المنطقي لأسعارها وقال: "لا بد من تدخل الدول والمجتمعات لحماية المستهلكين الضعفاء الفقراء".

وأشاد الشيخ بإنشاء جمعيات حماية المستهلك الضعيف أمام التجار والمنتجين الأقوياء ودعاها للقيام بدورها في الرقابة الشعبية.

وحمل القرضاوى بشدة على التجار الذين يغالون في أسعار السلع ولا يراعون ظروف الفقراء ووصفهم بأنهم "لا يقنعون بقليل ولا يشبعون من كثير"، وحذرهم من أن المغالاة بالأسعار "توجب غضب الله وسخطه".

وفي السياق نفسه لفت الشيخ القرضاوي إلى أن "الإسلام حرم الاحتكار في كافة السلع، وتزداد حرمته في احتكار الأقوات والضروريات".

الجوع والفقر

وخصص الدكتور القرضاوي الجزء الأكبر من خطبته للحديث عن مشكلتي الجوع والفقر، وعن ضرورة سد حاجة الذين يعانون ولا يجدون ما يأكلون.

ووصف الجوع بأنه "كافر"، مشيرا إلى أن النبي صلى الله عليه وسلم استعاذ منه بقوله: "اللهم إني أعوذ بك من الجوع، فإنه بئس الضجيع".

وأكد الشيخ القرضاوي أن شر عقوبتين يعاقب الله بهما المجتمعات المنحرفة هما: الجوع والخوف، مستشهدا بقول الله تعالى: { وَضَرَبَ اللّهُ مَثَلاً قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُّطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَداً مِّن كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللّهِ فَأَذَاقَهَا اللّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُواْ يَصْنَعُونَ} [النحل:112].

وقال: "إن حرمان الناس من قوت يومهم بأن يصبحوا فلا يجدون خبزا ولا أرزا يسد جوعهم.. فإن ذلك يمثل قضية كبيرة تقوم من أجلها الثورات، وتنقلب من أجلها المجتمعات، وتقلب من أجلها الحكومات".

واستشهد بقول الصحابي الجليل أبي ذر الغفاري: "عجبت لمن لا يجد القوت في بيته كيف لا يخرج على الناس شاهرا سيفه".

وشهد عدد من الدول العربية أزمات حادة؛ جراء ارتفاع أسعار المواد الغذائية والسلع الضرورية، وهو ما أدى إلى خروج مظاهرات شعبية احتجاجا على عدم تدخل الحكومات لكبح الغلاء، وتحولت بعض هذه الاحتجاجات إلى مصادمات بين قوات الأمن والمتظاهرين؛ مما أدى إلى سقوط عدد من القتلى والجرحى.

مترفون وجائعون

وأشار الشيخ القرضاوي إلى وجود خلل في إنتاج وتوزيع واستهلاك الثروة في مجتمعاتنا، وطالب بعلاج هذا الخلل، موضحا أن كل خلل له دواء وله علاج.

وانتقد الشيخ القرضاوي "من ينعمون بما لذ وطاب من الطعام والشراب ومن تتكلف موائدهم آلاف الريالات؛ الذين يستوردون غذاءهم من باريس وعشاءهم من سويسرا، ومن يتفننون في لذات بطونهم ويلقون فائض طعامهم في القمامة، وينسون أن من حولهم من لا يجدون قطعة خبز، وأن هناك أناسا يتضورون ويئنون من الجوع أنين الملسوع، ويبحثون في صناديق القمامة عن لقيمات تسد جوعهم".

التبرع للفلسطينيين

كما استنكر رئيس الاتحاد العالمي لعلماء المسلمين في هذا السياق استغلال الضعفاء والفقراء من العمال الكادحين، وانتقد في هذا السياق "الكفلاء في دول الخليج الذين يجلبون عمالا بأرخص الأجور ويستغلونهم وكأنهم ليسوا بشرا".

وانتهز الشيخ القرضاوي فرصة الحديث عن الأمن الغذائي والفقر للتذكير بضرورة التبرع للأشقاء الفلسطينيين عامة، والمحاصرين في غزة خاصة.

وقال: "إنهم يعانون من الجوع القاتل والحصار الإسرائيلي الظالم ولا يجدون مطعما ولا مشربا ولا وقودا ولا دواء. وحث على نصرتهم ومساعدتهم، معتبرا ذلك واجبا على المسلمين، وقال: "لا ينبغى أن نترك إخواننا وحدهم يعانون الحصار وويلاته".

وأشار الشيخ القرضاوي إلى أن 11 جامعة فلسطينية توشك أن تغلق أبوابها لأن طلابها لا يجدون ما يدفعون به الرسوم لجامعاتهم.

ودعا "الشعوب العربية والمسلمة للضغط على الحكام ضغطا سلميا عقلانيا بالحسنى بعيدا عن الشغب حتى يقفوا مع شعب فلسطين ويطالبوا برفع الحصار الظالم عليه".

Kamis, 10 April 2008

MAKNA ADDIN (AGAMA)


مقالات

مفهوم كلمة (الدِّين)




موقع القرضاوي/ 9-4-2008

بقلم العلامة الشيخ القرضاوي

إذا بحثنا عن مفهوم كلمة (الدِّين) في اللغة: وجدنا لها معاني كثيرة مختلفة، قد لا نخرج منها بطائل، وهو الذي جعل شيخنا العلاَّمة الدكتور محمد عبد الله دراز يعلن ضيقه بالمعاجم العربية التي لا تُعطي مفهوما حاسما في هذا الأمر وأمثاله.

ولكن شيخنا وجد: أن المعاني الكثيرة تعود في نهاية الأمر إلى ثلاثـة معان تكاد تكون متلازمة، بل نجد أن التفاوت اليسير بين هذه المعاني الثلاثة مردُّه في الحقيقة إلى أن الكلمة التي يُراد شرحها ليست كلمة واحدة، بل ثلاث كلمات، أو بعبارة أدق: أنها تتضمن ثلاثة أفعال بالتناوب.

بيانه: أن كلمة (الدِّين) تؤخذ تارة من فعل مُتعدٍ بنفسه: (دانه يدينه)، وتارة من فعل متعدٍ باللام: (دان له)، وتارة من فعل متعدٍ بالباء: (دان به)، وباختلاف الاشتقاق تختلف الصورة المعنوية التي تعطيها الصيغة.

1. فإذا قلنا: (دانه دِينًا) عنينا بذلك أنه مَلَكَه، وحَكَمَه، وساسه، ودبره، وقهره، وحاسبه، وقضى في شأنه، وجازاه، وكافأه. فالدِّين في هذا الاستعمال يدور على معنى المُلك والتصرف بما هو من شأن الملوك؛ من السياسة والتدبير، والحكم والقهر، والمحاسبة والمجازاة. ومن ذلك: {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} [الفاتحة:4]، أي يوم المحاسبة والجزاء. وفي الحديث: "الكَيِّسُ من دان نفسه"[1]، أي حَكَمَها وضَبَطَها. و(الديَّان) الحَكَم القاضي.

2. وإذا قلنا: (دان له) أردنا أنه أطاعه، وخضع له. فالدِّين هنا هو الخضوع والطاعة، والعبادة والورع. وكلمة: (الدِّين لله) يصح أن منها كلا المعنيين: الحُكم لله، أو الخضوع لله.

وواضح أن هذا المعنى الثاني ملازم للأول ومطاوع له. (دانه فدان له) أي قهره على الطاعة فخضع وأطاع.

3. وإذا قلنا: (دان بالشيء) كان معنـاه أنه اتخذه دينا ومذهبـا، أي اعتـقده أو اعتاده أو تخلَّق به. فالدِّين على هذا هو المذهب والطريقة التي يسير عليها المرء نظريًا أو عمليًا. فالمذهب العملي لكل امرئ هو عادته وسيرته؛ كما يقال: (هذا دِيني ودَيْدَني). والمذهب النظري عنده هو عقيدته ورأيه الذي يعتنقه. ومن ذلك قولهم: (ديَّنت الرجل) أي وَكَلْتُه إلى دينه، ولم أعترض عليه فيما يراه سائغا في اعتقاده.

ولا يخفى أن هذا الاستعمال الثالث تابع أيضًا للاستعمالين قبله، لأن العادة أو العقيدة التي يدان بها، لها من السلطان على صاحبها ما يجعله ينقاد لها، ويلتزم اتِّباعها.

وجملة القول في هذه المعاني: اللغوية أن كلمة (الدِّين) عند العرب تشير إلى علاقة بين طرفين يعظِّم أحدهما الآخر ويخضع له. فإذا وصف بها الطرف الأول كانت خضوعا وانقيادًا، وإذا وصف بها الطرف الثاني كانت أمرًا وسلطانًا، وحُكْمًا وإلزامًا، وإذا نظر بها إلى الرباط الجامع بين الطرفين كانت هي الدستور المنظم لتلك العلاقة، أو المظهر الذي يعبر عنها.

ونستطيع أن نقول: إن المادة كلها تدور على معنى لزوم الانقياد، ففي الاستعمال الأول، الدِّين هو: إلزام الانقياد، وفي الاستعمال الثاني، هو: التزام الانقياد، وفي الاستعمال الثالث، هو المبدأ الذي يُلتزم الانقياد له.

وهكذا يظهر لنا جليًا أن هذه المادة بكل معانيها أصيلة في اللغة العربية، وأن ما ظنه بعض المستشرقين[2] من أنها دخيلة، مُعرَّبة عن العبرية أو الفارسية في كل استعمالاتها أو في أكثرها: بعيد كل البعد. ولعلها نزعة شعوبية تريد تجريد العرب من كل فضيلة، حتى فضيلة البيان التي هي أعز مفاخرهم!

ونعود إلى موضوعنا فنقول: إن الذي يعنينا من كل هذه الاستعمالات هو الاستعمالان الأخيران، وعلى الأخص الاستعمال الثالث. فكلمة الدِّين التي تستعمل في تاريخ الأديان لها معنيان لا غير. (أحدهما) هذه الحالة النفسيةetat subjectif التي نسميها التدين religiosite. (والآخر) تلك الحقيقة الخارجية fait odjectif التي يمكن الرجوع إليها في العادات الخارجية، أو الآثار الخارجية، أو الروايات المأثورة، ومعناها: جملة المبادئ التي تدين بها أمة من الأمم، اعتقادا أو عملا. doctrine religieuse وهذا المعنى أكثر وأغلب[3] اهـ.



الدِّين اصطلاحا:

على أن المعنى اللغوي لا يعطينا تمامًا: المفهوم الذي يعرفه الناس ويستخدمونه في أعرافهم ومصطلحاتهم، وقد عرّفه بعض العلماء الإسلاميين بتعريفات متقاربة.

فقال ابن الكمال: الدِّين وضع إلهي يدعو أصحاب العقول إلى قبول ما هو عن الرسول.

وقال غيره: وضع إلهي سائق لذوي العقول باختيارهم المحمود إلى الخير بالذات[4].

وقال أبو البقاء في (كلياته): الدِّين وضع إلهي سائق لذوي العقول باختيارهم المحمود إلى الخير بالذات، قلبيا كان أو قالبيا (أي معنويا أو مادِّيا) كالاعتقاد والعلم والصلاة.

وقد يُتجوَّز فيه، فيطلق على الأصول خاصة، فيكون بمعنى المِلَّة، وعليه قوله تعالى: {دِيناً قِيَماً مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ} [الأنعام:161].

وقد يُتجوَّز فيه أيضًا، فيطلق على الفروع خاصة، وعليه قوله تعالى: {وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ} [البينة:5][5].

وأشهر تعريف تناقله الإسلاميون عن الدِّين ما ذكره صاحب (كشاف اصطلاحات العلوم والفنون): أنه وضع إلهيٌ سائق لذوي العقول السليمة باختيارهم، إلى الصلاح في الحال، والفلاح في المآل[6].

وقد لخصه شيخنا د. دراز بقوله: الدِّين وضع إلهي يرشد إلى الحق في الاعتقادات، وإلى الخير في السلوك والمعاملات[7].

وأحسب أن تلخيص شيخنا د. دراز ينقصه أن يتضمن (العبادات) مع (الاعتقادات) إلا أن تدخل في عموم السلوك، سواء كان مع الله، أم مع خَلقه.

وقد نقل شيخنا دراز عن الغربيين تعريفات عن الدِّين، يلتقي معظمها في الأصل مع المفهوم الاصطلاحي للدين عند علماء المسلمين، أو يقترب منه.

ولا بأس أن نذكر هنا بعض هذه التعريفات.

يقول سيسرون، في كتابه (عن القوانين): (الدِّين هو الرباط الذي يصل الإنسان بالله).

ويقول في كتابه (الدِّين في حدود العقل): (الدِّين هو الشعور بواجباتنا من حيث كونها قائمة على أوامر إلهية).

ويقول شلاير ماخر، في (مقالات عن الديانة): (قوام حقيقة الدِّين شعورنا بالحاجة والتبعية المطلقة).

ويقول الأب شاتل، في كتاب (قانون الإنسانية): (الدِّين هو مجموعة واجبات المخلوق نحو الخالق: واجبات الإنسان نحو الله، وواجباته نحو الجماعة، وواجباته نحو نفسه).

ويقول روبرت سبنسر، في خاتمة كتاب (المبادئ الأولية): (الإيمان بقوة لا

يمكن تصور نهايتها الزمانية ولا المكانية، هو العنصر الرئيسي في الدِّين)[8].



مفهوم كلمة (الدِّين) في القرآن:

ومن تتبع كلمة (الدِّين) في القرآن الكريم، مُعَرَّفـة أو منكـرة، مجـردة أو مضافة: يجد لها معاني كثيرة يحددها السياق.

فأحيانا يُراد بها الجزاء، مثل: {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} [الفاتحة:4].

وأحيانا يُراد بها: الطاعة، كما في قوله تعالى: {وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ} [النساء:164].

وأحيانا يُراد به: أصول الدِّين وعقائده، كما في قوله تعالى: {شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحاً وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ} [الشورى:13].

فالذي شرع الله لأمة محمد من الدِّين: هو ما وصَّى به أولي العزم من الرسل: نوحا وإبراهيم وموسى وعيسى بن مريم، وهو: أن يقيموا الدِّين ولا يتفرقوا فيه.

والدِّين هنا الذي جاءت به الرسل كلهم -كما قال الحافظ بن كثير- هو: عبادة الله وحده لا شريك له، كما قال عز وجل: {وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ} [الأنبياء:25]. وفي الحديث: "نحن -معشر الأنبياء- أولاد علات، ديننا واحد"[9]. أي القدر المشترك بينهم، هو: عبادة الله وحده لا شريك له، وإن اختلفت شرائعهم ومناهجهم، كقوله جل جلاله: {لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجاً} [المائدة:48]. لهذا قال تعالى ههنا: {أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ} [الشورى:13]، أي وصَّى الله تعالى جميع الأنبياء عليهم الصلاة والسلام بالائتلاف والجماعة، ونهاهم عن الافتراق والاختلاف[10] اهـ.

وقد يُراد بالدِّين إذا ذكر في القرآن: الإسلام خاصة، كقوله تعالى: {أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ} [آل عمران:83]، وقوله: {هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ} [التوبة:33، الفتح:28، الصف:9].

كما قد يُراد به العقيدة التي يدين بها قوم من الأقوام، وإن كانت باطلة، كما في أمره تعالى لرسوله أن يقول للمشركين الكافرين: {لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ} [الكافرون:6].



كلمة الدِّين لا تقتصر على الدِّين الحق:

ومن هنا نتبين: أن إطلاق كلمة (الدِّين) لا تعني (الدِّين الحق) وحده، بل تعني: ما يدين به الناس ويعتقدونه، حقا كان أم باطلا.

ولقد أنكرتُ ما ذكره أحد العلماء في مؤتمر حضره عدد كبير من المدعويين، كان الحديث فيه عن حوار الأديان، والتقريب بين أهلها ... إلخ، وكان المؤتمر يدور حول هذه المعاني التي تحدث فيها المتحدثون والمشاركون. ولكن هذا العالم قام وقال بصراحة: لا يوجد هناك دين إلا دين واحد، وهو الإسلام، وهو الذي قال القرآن فيه: {إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلامُ} [آل عمران:19]، وقال تعالى: {وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلامِ دِيناً فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ} [آل عمران:85]، حتى ما يُسَمَّى (الأديان الكتابية) لا يُعْتَد بها، ولا تُعْتبر دينا، بعد أن حرفها أهلها، وجاء الإسلام فنسخها.

وقد ألزمني الواجب أن أرد على هذا الكلام الذي ينسف كل ما قيل في المؤتمر، بل جهود الحوار والتقارب بين الأديان والحضارات. وقلتُ فيما قلتُ:

إن هذا الكلام يخالف صراحة ما جاء به القرآن، فالقرآن يعتبر أن هناك أديانا أخرى غير الإسلام، وإن كنا نعتبرها أديانا باطلة، ولكنها أديان يدين بها أصحابها.

والآية التي استشهد بها المتحدث ترد عليه، وهي قوله: {وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلامِ دِيناً ...} الآية، فقد سماه الله دينا.

وقال تعالى في شأن أهل الكتاب: {يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ ...} [النساء:171]، بل أمر نبيه محمدا r في شأن الوثنيين من المشركين أن يقول لهم: {لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ} [الكافرون:6].

وقال عز وجل في شأن الكافرين: {الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَهْواً وَلَعِباً وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا} [الأعراف:51].

فالدِّين يشمل ما هو حق، مثل ما بعث الله به محمدا r وما هو باطل، كالأديان التي جاء بنسخها والظهور عليها، كما قال تعالى: {هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ} [التوبة:33، الفتح:28، الصف:9]، فما أرسل الله به محمدا هو (دين الحق) الذي وعد الله أن يظهره على (الدِّين كله) أي الأديان كلها، فهي أديان لم يعد لها أحقية بعد ظهور الإسلام. أي أنه أبطلها.

الدِّين والإسلام:

ومن الضروري هنا أن نقرِّر: أن مفهوم كلمة (الدِّين) ليس هو مفهوم كلمة (الإسلام) كما يتصور ذلك كثير من الكتاب المعاصرين.

نعم يمكن أن يكونا شيئا واحدا، إذا أضفنا الدِّين إلى الإسلام أو إلى الله، فنقول (دين الإسلام) أو (دين الله) جاء بكذا أو كذا، أو هو الدِّين الذي بعث الله به خاتم رسله: محمدا r وأنزل به آخر كتبه: القرآن الكريم.

ولكن إذا ذكرت كلمة (دين) مجردة من الإضافة أو الوصف، فهي أضيق مفهوما من كلمة الإسلام، لأن (الدِّين) في الحقيقة إنما هو جزء من الإسلام.

ومن هنا رأينا الأصوليين والفقهاء وعلماء المسلمين يُقَسِّمون المصالح التي جاءت شريعة الإسلام لتحقيقها في الحياة إلى: ضروريات وحاجيات وتحسينات. ويَحْصُرون الضروريات التي لا تقوم حياة الناس إلا بها في خمسة أشياء، وهي: الدِّين والنفس والنسل والعقل والمال. وأضاف بعضهم سادسة، وهي: العرض.

فالشريعة الإسلامية من مقاصدها الأساسية: أن تُقِيم (الدِّين) وتحافظ عليه، لأنه سر الوجود، وجوهر الحياة، ومن أجله خَلق الله الناس، كما قال تعالى: {وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ} [الذريات:56].

بل أعلن القرآن أن الله لم يخلق هذا العالم عُلْويَّه وسُفْليَّه، بسمواته وأرضه، إلا ليعرفه خَلقه، فيؤدوا إليه حقه، كما قال تعالى: {اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاَطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْماً} [الطلاق:12].

فالدِّين إذن هو ما يحدد العلاقة بين الله سبحانه وخَلقه من المكلَّفين، من حيث معرفته وتوحيده، والإيمان به إيمانا صحيحا بعيدا عن ضلالات الشرك، وأباطيل السحرة، وأوهام العوام. ومن حيث إفراده جل شأنه بالعبادة والاستعانة، فلا يُتوجه بالعبادة إلا إليه، ولا يستعان -خارج الأسباب المعتادة- إلا به سبحانه: {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} [الفاتحة:5].

كلمة (الإسلام) أوسع من كلمة (الدين):

ومن هنا نرى كلمة (الإسلام) أوسع دائرة من كلمة (الدِّين). ولهذا نقول: الإسلام دين ودنيا، عقيدة وشريعة، عبادة ومعاملة، دعوة ودولة، خُلُق وقوة.

ورأينا من أدعية نبينا r: "اللهم أصلح لي ديني الذي هو عصمة أمري، وأصلح لي دنياي التي فيها معاشي، وأصلح لي آخرتي التي إليها معادي"[11].

وهكذا رأينا: (الدِّين) يقابل بـ(الدنيا)، ورأينا الفقهاء يقولون عن بعض أعمال المكلَّفين: تجوز دينًا أو ديانة، ولا تجوز قضاء أو العكس.

ورأينا الكلام عن (الدِّين والسياسة)، أو (الدِّين والدولة) في كلام كثير من العلماء على تنوع اختصاصهم.