Rabu, 20 Februari 2008

KONSULTASI - KELUARGA


Asww.

Apa hukumnya Isteri Keluar Rumah Tanpa Permisi?

Jawaban:
Assalamu alaikum wr.wb. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Pada dasarnya seorang isteri harus tinggal di dalam rumah. Allah berfirman, "Hendaknya kalian tinggal di rumah kalian dan jangan bersolek seperti budaya jahiliyah." (al-Ahzab: 33)
Namun demikian, bukan berarti ia tidak boleh keluar dari rumah. Islam membolehkan mereka keluar rumah misalnya pergi ke masjid, mengunjungi orang tua, kerabat, membeli kebutuhannya, serta melakukan berbagai pekerjaan baik lainnya. Hanya saja, untuk keluar dari rumah, syaratnya harus meminta ijin kepada suami.Ibn Hajar al-Asqalani menukil komentar al-Nawawi tentang hadis yang berbunyi, ”Jika isteri kalian meminta ijin untuk pergi ke masjid, berikanlah ijin untuk mereka.” menurutnya hadis ini menjadi dalil bahwa seorang wanita tidak boleh keluar rumah kecuali dengan ijinnya karena di sana ada perintah kepada suami untuk memberikan ijin kepadanya. Ini berlaku setiap kali isteri hendak keluar rumah, kecuali jika sudah bisa dipastikan dan sudah diketahui suaminya ridha. Misalnya wanita yang bekerja sebagai pegawai yang berangkat dan keluar rumah setiap hari. Kalau suaminya sudah ridha, tidak perlu lagi ia meminta ijin setiap hari kepada suaminya.
Kalau kemudian dalam kondisi-kondisi tertentu, sang suami tidak memberikan ijin untuk keluar rumah, maka isteri tidak boleh keluar rumah.
Lalu yang perlu diperhatikan oleh setiap wanita atau isteri yang akan keluar rumah adalah hal-hal sebagai berikut:
1. Ketika keluar rumah, ia harus mengenakan busana yang sesuai syariat.
2. Tidak memakai parfum dan perhiasan yang bisa mengundang fitnah
3. keluar rumah untuk sesuatu yang memang perlu dan penting.
4. Tidak mendekati tempat-tempat yang mendatangkan kemungkaran dan tempat yang mengundang kemaksiatan.
5. Hendaknya berusaha untuk tidak pergi sendirian; tetapi ditemani oleh mahramnya.
Wallahu a’lam bish-shawab. Wassalamu alaikum wr.wb.

Jumat, 15 Februari 2008



Islam mengajarkan menuntut ilmu itu berlangsung seumur hidup. Tidak dikenal batasan waktu dalam mencarinya. Rasulullah mengajarkan, ''Menuntut ilmu hukumnya wajib bagi setiap Muslim.'' (HR Thabrani). Dalam hadis dengan perawi lain, Rasulullah SAW juga menekankan hal yang sama. ''Tuntutlah ilmu dari masa buaian sampai menjelang masuk liang kubur.'' (HR Bukhari).
Wahyu Rasulullah sendiri merupakan uswah pertama dalam menuntut ilmu. Wahyu pertama yang beliau terima adalah perintah untuk menjadi orang berilmu melalui membaca (QS Al-Alaq [96]: 1-5). Alquran dibaca supaya hidup teratur, sejarah dibaca supaya tahu peninggalan para leluhur, dan alam dibaca supaya lahir karya-karya yang luhur. Melalui bacaan ilmu pengetahuan diperoleh dan seseorang menjadi bijak dalam tutur kata dan perbuatan.
Menuntut ilmu juga tidak dibatasi oleh tempat. Dalam sebuah hadis riwayat Ibnu Uda, Rasulullah memerintahkan untuk menuntut ilmu sampai ke negeri Cina. Ini merupakan indikasi nyata bahwa Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan.
Ketika Rasulullah menganjurkan untuk belajar sampai ke negeri Cina tentu bukan harus belajar tafsir di sana, sebab bukan tempatnya. Begitu juga di Cina bukan tempat untuk belajar shalat ataupun menunaikan zakat. Cina pada zaman Nabi Muhammad SAW, 14 abad silam, adalah negara yang sudah maju dalam ilmu pengetahuan, teknologi, industri, dan perdagangan.
Sehingga, Rasulullah menyuruh umatnya untuk belajar teknologi, perdagangan, dan industri sekalipun kepada orang yang berbeda keyakinan. Begitu istimewanya orang yang menuntut ilmu sampai diperbolehkan oleh Rasulullah untuk iri kepada mereka. Tentu saja iri tatkala ilmunya bermanfaat bagi orang lain. Rasulullah bersabda, ''Tidak boleh hasud (iri) kepada orang lain kecuali kepada orang yang diberi kekayaan oleh Allah, kemudian ia menggunakannya untuk membela kebenaran dan kepada orang yang diberi ilmu tatkala ilmunya diamalkan dan diajarkan kepada orang lain.'' (HR Bukhari Muslim).
Oleh karenanya, kedudukan orang yang mencari ilmu sangat luhur sampai Allah menjanjikan posisi yang amat tinggi bagi mereka. ''... Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang yang berilmu beberapa derajat ...'' (QS Al-Mujadilah [58]: 11). Demikian pula usaha untuk mencari dan menggali ilmu diganjar oleh Allah dengan pahala seumpama orang yang sedang berjuang di jalan Allah. ''Siapa yang keluar rumah untuk menuntut ilmu maka ia berjuang fisabilillah hingga kembali ke rumahnya.'' (At-Tirmidzi).
Dan yang paling utama, dengan keluhuran ilmunya seseorang akan memperoleh kedudukan sebagai ahli waris para nabi. Bukan hanya Nabi Muhammad, namun ahli waris seluruh nabi semenjak Nabi Adam AS. ''Para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Yang mereka wariskan adalah ilmu. Seseorang yang mendapatkannya, sungguh ia telah mendapatkan bagian yang banyak.'' (HR Abu Dawud dan Tirmidzi). Maka, janganlah lelah menuntut ilmu, saudaraku(WASSALAM)

Rabu, 13 Februari 2008

HIKMAH

Asww.Selamat merenungkan
Dalam sebuah majelis, Rasulullah SAW pernah ditanya para sahabat. ''Ya Rasulullah, apa ciri-ciri pribadi Muslim?'' Rasulullah menjawab, ''Ciri-ciri Muslim itu, apabila dia melihat kamu, maka dia mendekat kepadamu, kemudian dia menyegerakan salam. Lalu kau lihat tampak
pada wajahnya selalu tersenyum. Lalu, dia akan lebih awal menjulurkan tangannya untuk bersalaman. Kalau kau dekat dengan dia, kau mencium wanginya. Kalau kau bicara dengan dia perhatikan baik-baik, pasti dia mengajakmu selamat dunia akhirat. Mau berbicara tentang apa saja, pada akhirnya mengajak kamu selamat di akhirat. Kalau berurusan dengannya, dia permudah. Itulah ciri-ciri pribadi Muslim.'' (Muttafaq 'Alaih).
Betapa sederhananya pribadi seorang Muslim yang digambarkan Rasulullah SAW di atas. Gambaran tadi kelihatannya sangat ringan, namun dalam praktiknya berat dilakukan. Intinya, seseorang baru bisa dikatakan Muslim kalau orang lain merasanya aman dari tangan, lisan, dan perbuatannya. Pribadi Muslim selalu dekat dengan Allah.
Orang kalau sudah mendekat kepada Allah, maka akan sayang dengan makhluk Allah. Orang kalau sudah sujud, dia berdoa dengan rasa takut, dengan berharap amat sangat, dampaknya dia akan senang berbuat kebaikan.
Seorang Muslim itu laksana cahaya. Kalau dia sudah bercahaya, pasti menerangi kanan-kirinya karena dia mengakses nur Allah. Seorang Muslim menerangi bukan hanya hatinya, tapi pikirannya, pendengarannya, tingkah lakunya, pakaiannya, rezekinya, rumahnya, kamarnya, tamannya. Di manapun dia berada membawa cahaya, dan cahaya itu tidak bisa dikalahkan dengan kegelapan.
Seorang pribadi Muslim meyakini adanya hari akhirat, dia menjadikan, dunia ini untuk akhiratnya. Hidupnya untuk Yang Mahahidup. Bukan hidup untuk hidup, yang pada akhirnya berlomba-lomba untuk menjadikan semuanya komoditas. Sehingga, mengejar popularitas, jabatan, dan kekayaan.
Seorang pribadi Muslim tahu, waktu yang diberikan Allah ini sempit untuk di dunia. Makanya seorang Muslim ingin membuat kenangan yang panjang. Wa ammaa bini'mati robbika fahaddits (Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya [dengan bersyukur). (QS Adh Dhuhaa [93]: 11
)

Selasa, 12 Februari 2008

Undangan

Rapat Salimah.
Asww.