Rabu, 19 November 2008

Pengorbanan


Asww.
3 x الله أكبر 3 x الله أكبر 3 x
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ هُوَ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْدًا لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَحَرَّمَ عَلَيْهِمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، وَنَزَّلَ الْقُرْآنَ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ، وَهُوَ خَيْرَ النِّعَمِ.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَنَبِيَّ بَعْدَهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مَنِ اصْطَفَى، مُحَمَّدٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ، وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ وَالاَهُ.
1. أَمَّا بَعْدُ، فَياَ عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Allahu akbar 3x walillahil hamd
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesempatan kepada kita untuk bisa menghirup udara di pagi hari yang penuh berkah ini; hari yang penuh dengan kemuliaan; hari ketaatan dan pengorbanan.
Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita, teladan kita, dan uswah kita, Nabi Muhammad saw berikut keluarga, sahabat, dan para pengikut beliau yang setia hingga hari kemudian.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Hari ini adalah hari Iedul Adha. Hari yang besar, hari yang dirayakan oleh seluruh Ummat Islam di seluruh dunia. Kebesaran hari ini tercermin dalam pelaksanaan ibadah haji di tanah suci dan pemotongan hewan qurban oleh ummat Islam di seluruh dunia. Berkumpulnya jamaah haji di padang arafah seraya menyerukan talbiyah, takbir, tahmid dan tahlil adalah pengakuan sebagai ummatan wahidah. dan egaliter yaitu tiada yang lebih mulia di sisi Allah kecuali ketaqwaannya. Allah berfirman:
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ (27) لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ
Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan (al-Haj: 27-28)

Sedangkan penyembelihan hewan qurban yang dilakukan ummat Islam di seluruh penjuru dunia adalah representasi hakikat ajaran Islam yang selalu menanamkan spirit (jiwa) berkorban dalam mengemban amanat Allah sebagai khalifah di planet bumi ini, agar menjadi hambaNya yang mulia di sisiNya. Allah swt berfirman:
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka, dirikanlah shalat Karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. (QS al-Kautsar 1-3).


الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Dalam terminologi Islam berkorban merupakan konsekwensi praktis dari iman. Tak seorangpun yang berhak mengklaim dirinya beriman jika pengakuannya tidak menghasilkan pengorbanan
“Di antara orang-orang Arab Badwi itu ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan untuk mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukan mereka ke dalam rahmat (surga)Nya; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS at-Taubah: 99)
Sebaliknya orang-yang mengaku beriman namun enggan berkorban untuk Allah swt maka imannya berarti mandul kalau tidak disebut palsu. Sejak manusia menyatakan beriman kepada Allah maka sejak itu pula Allah mengujinya dengan berbagai pengorbanan
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS al-Ankabut: 2)
Senada dengan ayat-ayat tersebut Rasulullah saw bersabda seperti hadits tentang dinamika iman dan puncaknya iman
رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ
Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad (HR at-Tirmidzi)
Dalam perjalanan sejarah para Rasul dan pendahulu yang shaleh kita dapatkan berbagai teladan pengorbanan hingga tanpa batas. Demikian itu demi meraih kemuliaan bagi bangsa (baca ummat) dan dirinya dunia dan ahkirat.
Abu Bakar misalnya ketika harus berhijrah meniggalkan rumah dan keluarganya maka seluruh simpanan kekayaannya justru diserahkan kepada Nabi untuk membiayai perjuangan. sahabat Suhaib misalnya ketika Nabi sampai di Madinah, maka sebidang tanah satu-satunya yang ia miliki malah ia korbankan agar dibangun di atasnya masjid Nabi. Mus`ab bin Umair adalah contoh lain; yaitu sejak ia beriman kepada Nabi maka ia tinggalkan seluruh kesenangn dunianya, kehidupan hura-hura dan glamornya, kehidupan matrenya dan seluruh kemewahannya dan diganti dengan kesederhanan serta hidup yg lebih bermakna. Pengorbanan khadijah, Ummu Salamah, Ummu Sulaim, Khansa’ dan masih sangat banyak contoh yang lainnya terutama pada diri Nabi besar Muhammad SAW. Semua pengorbanan itu demi meraih kemuliaan bagi ummat, negeri, dan seluruh manusia.

Sekali lagi hari ini kita diingatkan oleh sebuah peristiwa yang amat spektakuler yang diabadikan oleh al-Quran dan selamnya dikenang sebagai teladan dalam berkurban. Yaitu pengorbanan Nab Ibrahim As.
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar" (QS ash-Shaffat: 102).
Tindakan kedua hamba Allah ini sungguh diluar jangkauan perhitungan manusia biasa. Bagaimana itu mungkin? Seorang ayah yang sedang membara cinta kasihnya kepada anak darah dagingnya. kepadanya seluruh harapan masa depan ditumpukan, pada dirinya estafeta perjuangan menjadi harapan. Seorang ayah yang sedang menyaksikan putra kesayangan sedang asyik bermain, tiba-tiba datang perintah -yang nyaris tidak dipercaya- agar Ibrahim as segera menyembelih putranya yang menjadi dambaan hidupnya itu untuk menjadi korban. Masya...Allah, sungguh hati ini tidak mudah mempercayai apalagi menerima........
Namun ahirnya Nabi Ibrahim as berikut putranya, Ismail as, memenuhi perintah Tuhan berupa pengorbanan dirinya. Kedua hamba Allah ini memang tidak mendahulukan rasionalitas dan egonya dalam mensikapi perintah Allah itu melainkan mendahulukan iman dan nuraninya yang bersih, sehingga mampu mencerna pesan Allah dengan tepat dan benar.
Keduanya melakukan hal itu penuh tawakkal. Demi meraih kemuliaan yang sejati di sisiAllah swt.
Betapa agungnya pengorbanan tersebut! Betapa indahnya kepatuhan dan ketaatan tersebut! Inilah peristiwa yang selalu dikenang sepanjang masa, khususnya setiap kali kita berkurban di hari raya iedul adha ini.
Allah akbar 3 X walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Pernahkan kita berpikir dan merenung mengapa pengorbanan itu harus dilakukan? Apakah Allah membutuhkannya? Apakah Allah memiliki sifat kejam dan bengis sehingga seorang ayah diminta untuk menyembelih anaknya sendiri? Tentu saja tidak demikian dan maha suci Allah dari seluruh sifat yang tercela. Sebenarnya Allah hanya ingin menguji manusia dan ingin melihat loyalitasnya. Demikian Ibrahim menunaikan seluruh tugas dan ujian dari Allah dengan sempurna. Karena itu Nabi Ibrahim memperolah berbagai kemuliaan dari Allah swt. Ibrahim dikokohkan oleh Allah sebagai Imam (pemimpin) bagi seluruh manusia, dan juga keturunannya.
وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا
“Ingatlah ketika Tuhan memberikan sejumlah ujian kepada Ibrahim dan Ibrahim berhasil menunaikan ujian tersebut secara sempurna. Ketika itu Dia berkata, “Aku akan menjadikanmu sebagai imam bagi seluruh manusia.” (QS al-Baqarah: 124)
Sebagaimana ia memperolah pengokohan dari Allah sebagai sosok muslim yang sejati.

Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus dan muslim (berserah diri kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik (QS Ali Imran: 67)
Selanjutnya Ibrahim as mendapatkan kelapangan, pertolongan, kemudahan hidup dan menjadi panutan di sepanjang masa. Itulah berbagai bentuk kemuliaan yang Allah berikan kepada hamba-Nya manakala ia menunjukkan pengorbanan untuk-Nya.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Bila kita mencermati kehidupan bangsa dan ummat saat ini, maka dengan jujur kita akan mengatakan bahwa kondisinya sedang sakit. Hampir di semua tatanan sosial, ekonomi, budaya, pertahanan, keamanan, pendidikan, politik apalagi birokrasi bahkan hingga iklim yang menyelimuti kita, semua itu masih amat memprihatinkan ditambah berbagai bencana alam yang terus silih berganti. Inilah penyebab utama mengapa negara yang kaya raya akan berbagai tambang dan hasil minyak bumi dan kekayaan lainnya tidak mampu mensejahterakan bangsanya dan justru kian hari kehidupan dirasa kian sulit dan memberatkan.

Sebagai orang yang beriman tentu dengan mudah melihat realita yang demikian. Allah swt sesungguhnya Maha Rahman dan Rahim karenanya tidak akan melakukan hal-hal yang dapat menyulitkan dan merusak kehidupan hambaNya. Namun disisi lain Allah menentukan aturan dan pranata kehidupan dan alam yang harus diikuti jika dilanggar pasti menimbulkan kesengsaraan dan atau kebinasaan itulah yang disebut hukum alam oleh sebagian manusia. Jadi segala yang timbul dalam kehidupan tidak lebih dari akibat ulah dan tindakan manusia itu sendiri. Allah swt berfirman:"

41. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Rasulullah bersabda:”tidak ada perbuatan dosa yang patut dipercepat azabnya di dunia dan akhirat daripada dosa memecah belah persaudaraan, khianat dan kedustaan”. ( HR Abu Dawud dan shahih menurut al-Bani )

Ulah tangan manusia itu adalah enggannya berkorban untuk kebaikan dan kemuliaan karena pengorbanan dalam pemahaman salaf saleh tidak hanya menyumbangkan hal-hal yang biasa-biasa nilainya melainkan melepaskan darinya hal-hal yang berharga dan atau bernilai yang dia miliki atau dia kuasai atau dia nikmati atau dia cintai untuk meraih keridhaan Allah. Maka belum disebut pengorbanan jika seorang penguasa mengucurkan kepada rakyat dana APBN/APBD, justru disebut pengorbanan bila dia mampu memastikan dirinya dan seluruh birokrasi yang dibawahnya bersih dari segala tindakan yang berbau korupsi karena korupsi telah menjadi hoby (baca kebiasaan) sejumlah birokrat sedangkan pengucuran dana APBN/D adalah kewajiban semata. Sebagaimana belum terhitung berkorban bila seseorang mensedekahkan Rp100.000 dari hartanya yang ratusan juta. Namun justru disebut berkorban bila seorang hanya memiliki uang Rp 100. 000 namun dia telah bersedekah walau hanya RP 10.000 saja karena yang kedua telah mengorbankan sejumlah yang sangat bernilai baginya berbeda dengan yang pertama dia tidak merasa kehilangan yang sangat bernilai baginya.

Demikian pula bangsa dan negeri kita sedang membutuhkan uluran pengorbanan yang sejati sebagai buah dari keimanan dan sebagai sarana meraih keridhaan.
Allah swt berfirman

92. Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya.(al-Imran:92)

Ayat ini menegaskan kepada kita betapa kebaikan dan kesejahteran (al-bir) hanya dapat diraih melalui pengorbanan.

Bangsa Indonesia meraih kemerdekan setelah bangsa ini mengorbankan hah-hal yang termahal mulai harta, kekuasaan, posisi, kedudukan, anak, istri bahkan jutaan jiwa. Demikian pula untuk meraih kemerdekaan ekonomi sosial budaya pendidikan dan lain-lainnya dibutuhkan pengorbanan dari seluruh komponen bangsa mulai dari para pemegang kebijakan negara ini diikuti seluruh jajaran yang dibawahnya hingga rakyat jelata. Tidak dapat dipungkiri bahwa di sana sini masih kita temukan orang-orang yang patut diacungkan jempol dalam berkorban untuk bangsa dan negeri ini baik dari jajaran eksekutif maupun legislatif namun masih amat sedikit. Oleh karenanya gerakan berkorban tentu tidak hanya berhenti pada memotong kambing atau sapi dan sejenisnya. Melainkan berkorban dengan memangkas hawa nafsu serakah, menghentikan kebiasaan korupsi, menjauhkan kebiasaan buruk, menghentkan minuman-minuman keras dan narkoba dan mengisolasi anasir –anasir jahat dari tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat dan sejenisnya tidak kalah pentingnya.

Dalam pengorbanan dibutuhkan kepeloporan dan keteladanan tidak cukup hanya dengan seruan belaka.
Karenanya setiap pemimpin sedianya menjadi contoh terdepan dalam pengorbanan dimanapun posisi kepemimpinannya. Karena itu Rasulullah selalu berada di barisan terdepan dalam pengorbanan dan kebaikan.
Namun faktanya di negeri yang tercinta ini sungguh berbeda illa man rahimahullah. Demikian juga sebagai rakyat kita tidak boleh berputus asa dalam menghadapi bertubi-tubi cobaan karena Allah tidak akan menguji hambanya di luar kemampuannya.

Dalam kaitannya dengan pengorbanan Allah selalu menilai dan mengganjar pengorbanan itu, tidak ada yang sia-sia dari yang kita korbankan untuk kemuliaan dan kesejahteraan. Balasannya begitu tinggi, dan menyenangkan di sisi Allah. Allah berfirman
120. Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri rasul. yang demikian itu ialah Karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik,
121. Dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) Karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan.(at-Taubah:120-121).

Seorang penyair berkata:”
ومن طلب العلا من غير كد فقد أضاع العمل فى طلب المحال
Orang yang mencari kemulyaan tanpa pengorbanan
maka dia telah menyia-nyiakan amalnya dalam mencari sesuatu yang mustahil.


245. Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), Maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.(al-Baqarah:245)

Pemahaman kita tentang perintah berkorban dengan seekor domba, sapi kerbau dll hanyalah simbol akan intisari ajaran Islam bahwa setiap muslim harus memiliki jiwa berkorban demi kemuliaan di sisiNya karena hanya dengan cara berkorban kita dapat mencintai Allah yang maha Kasih, penyayang pencipta dan penguasa alam. jika kita telah dekat denganNya niscaya segala kebutuhan lahir batin dunia dan akhirat menjadi sangat mudah. Rasulullah bersabda:”ketika hamba itu telah menjadi kekasihku maka pandangan, pendengaran, pukulan tangan dan langkah kakinya adalah representasi prilakuKu ( Allah swt)”( HR Bukhori )

Meski demikian Rasulullah amat menekankan proses pembelajaran ini. Dengan berkorban melalui seekor binatang ternak kelak menjadi ummat yang gemar berkorban. Rasulullah bersabda:”
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رضي الله عنه - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - { "مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ, فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا" } رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَابْنُ مَاجَه, وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ, لَكِنْ رَجَّحَ اَلْأَئِمَّةُ غَيْرُهُ وَقْفَه ُ (3)
Barngsiapa yang mendapatkan kelonggaran rizki kemudian tidak berkorban maka hendaknya tidak mendekati musollaku ( HR Ahmad dan Ibnu Majah)


Allahu akbar 3X walillahil hamd
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Ahirnya Marilah kita bertanya kepada diri kita; apa yang telah kita korbankan dan persembahkan untuk agama dan bangsa kita selama ini?
Apakah kita telah mempersembahkan harta, waktu, perhatian, fisik, raga, dan apa saja yang amat bernilai di jalan Allah?
Seberapa besar pengorbanan tersebut telah kita berikan? Apakah kita telah berkorban untuk kemajuan umat dan bangsa?
Pertanyaan itulah yang harus kita jawab dengan amal-amal nyata dan kontribusi yang maksimal agar umat dan bangsa ini meraih kemuliaan.

Marilah pada hari penuh berkah ini kita berdoa kepada Allah dengan harapan agar Dia mengeluarkan kita semua dari krisis yang multi dimensi dan musibah yang terus silih berganti, dan agar Dia memberikan pertolongan-Nya, serta agar Dia selalu memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita.
اَللّهُمَّ صَلِّى وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعَا إِلَى اللهِ بِدَعْوَةِ اْلإِسْلاَمِ وَمَنْ تَمَسَّكَ بِسُنَّةِ رَسُوْلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ اِلى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَلاَ نَكْفُرُكَ وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَخْلَعَ مَنْ يَفْجُرُكَ.
اَللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَكَ نُصَلِّى وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ نَرْجُوْ رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ إِنَّ عَذَابَكَ الْجِدَّ بِالْكُفَّارِ مُلْحَقٌ.
اَللَّهُمَّ عَذِّبِ الْكَفَرَةَ الذِّيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ وَيُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَاءَكَ.
اَللَّهُمَّ أهْزِمْهُمْ ودَمِّرْهُمْ، وَمَـزِّقْ جَمْعَهُمْ وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ، وَاجْعَلْ تَدْمِيْرَهُمْ فِي تَدْبِيْرِهِمْ.
اَللَّهُمَّ أهْزِمْ جُيُوْشَ الكُفَّارَ المُسْتَعْمِرِيْنَ، أَمْرِيْكَا وَبِرِيْطَانِيَا وَحُلَفَاءِهَا المَلْعُوْنِيْنَ.

Ya Allah, kami memohon pertolongan-Mu, meminta ampunan-Mu. Sekali-kali kami tidak akan mengkufuri-Mu. Kami sepenuhnya iman kepada-Mu, dan berlepas diri dari siapapun yang durhaka kepada-Mu.
Ya Allah, hanya kepada-Mulah kami mengabdi, beribadah dan sujud. Kepada-Mulah kami berlari dan menuju. Kami mendambakan rahmat-Mu, dan takut akan adzab-Mu. Sesungguhnya adzab-Mu yang sungguh-sungguh ditimpakan kepada kaum Kufar itu juga pasti akan ditimpakan kepada yang lain.
Ya Allah, adzablah orang-orang kafir yang telah menghalangi jalan-Mu, mendustakan para rasul-Mu, dan membunuhi para pembela-Mu.
Ya Allah, kalahkanlah mereka, hancurkanlah mereka, cerai-beraikanlah persatuan mereka, dan porak-porandakanlah kesatuan mereka. Jadikanlah rencana jahat mereka itu sebagai pembawa kehancuran mereka.
Ya Allah, kalahkanlah pasukan kaum Kufar penjajah, Amerika, Inggeris dan sekutu mereka yang terlaknat.

اَللَّهُمَّ مَلِكَ الْمُلْكِ تُعْطِي المُلْكَ مَنْ تَشَاءُ، وَتَنْزِعُ المُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ، وتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ، بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةَ الرَّاشِدَةَ عَلَى مِنْهَاجِ نَبِيِّكَ، تُعِزُّ بِهَا دِيْنَكَ وَتُذِلُّ بِهَا الكُفْرَ وَطُغْيَانَهُ.
اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا وَانْصُرْ إِخْوَانَنَا وَانْصُرْ مَنْ يَنْصُرُنَا وَاجْعَلْنَا وَإِيَّاهُمْ مِنَ الْعَامِلِيْنَ المُخْلِصِيْنَ لإقَامَةِ شَرِيْعَتِكَ وَالخِلاَفَةِ الرَّاشِدَةِ عَلَى مِنْهَاجِ نَبِيِّكَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَيَاخَيْرَ النَّاصِرِيْنَ.
Ya Allah, Maha Raja diraja, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa saja yang Engkau kehendaki, Engkau ambil kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapasaja yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinadinakan siapa saja yang Engkau kehendaki. Di dalam genggaman-Mulah seluruh kebaikan. Karena Engkaulah Dzat yang Maha Kuasa atas segalanya.
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu negara Khilafah Rasyidah yang mengikuti sunnah Nabi-Mu. Dengannya Engkau muliakan agama-Mu, dan Engkau hinakan kekufuran dan seluruh anteknya.
Ya Allah, tolonglah kami; tolonglah saudara-saudara kami; tolonglah siapa saja yang menolong kami. Jadikanlah kami dan mereka sebagai para pejuang yang ikhlas untuk menegakkan syariah-Mu, dan Khilafah Rasyidah yang mengikuti sunnah Nabi-Mu. Dengan rahmat-Mu, duhai Dzat yang Maha Pengasih, duhai Sebaik-baik Penolong.

وصَلِّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ، وَآخرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ g>

Senin, 17 November 2008

Senior




Assalamu’alaikum wr. wb. Ustadz yang saya hormati, saya bersyukur bisa terus aktif dalam kegiatan dakwah. Terutama kegiatan penggalangan masyarakat di sekitar rumah saya untuk tetap aktif mengikuti majelis taklim. Namun, ada masalah yang saya anggap kurang mengenakkan perasaan saya. Di antara penggerak majelis taklim tersebut, ada teman saya yang bisa dibilang senior. Tapi, akhir-akhir ini ia kurang aktif dalam penggalangan.

Masalahnya, kalau sedang rapat koordinasi ia begitu dominan. Sering perdebatan yang tidak perlu menjadi panjang. Bahkan, ketua panitia pun merasa sulit mengendalikan senior saya itu. Padahal, secara status, ia juga seorang anggota panitia seperti saya.

Ustadz, bagaimana sikap saya menghadapi senior tersebut. Terus terang, kami sungkan menegur. Tapi, kalau tidak ditegur, akan jadi masalah yang menghambat kegiatan dakwah di lingkungan kami. Atas perhatian dan jawaban Ustadz, saya ucapkan jazakumullah khairan katsira.

Wassalamu’alaikum wr. wb.
Abdurrahman, Jawa Timur

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudara Abdurrahman yang dimuliakan Allah, pertama, saya berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala semoga Dia senantiasa menjaga semangat, amal, dan aktivitas yang kami dan Anda lakukan, dan juga dilakukan oleh orang-orang semisal Anda.

Kedua, saya berdoa semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan taufiq, hidayah, kekuatan, ketabahan, dan jalan yang benar dalam menghadapi berbagai tantangan dan masalah dakwah. Marilah kita bersama-sama mengingat surat Al-Insyirah [94]: 5 – 6.

Dalam dua ayat tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala menyebut kata al-‘usr (kesulitan) dua kali, dan dua-duanya dalam bentuk ma’rifat (menggunakan hamzah dan laam). Juga menyebut kata yusran (kemudahan) dua kali pula, dan kedua-duanya dalam bentuk nakirah (tidak menggunakan hamzah dan laam).

Para ulama tafsir mengatakan, hakikat al-‘usr dalam dua ayat itu adalah satu, sedangkan hakikat yusran adalah dua, sehingga ada riwayat menyatakan, “Betapapun ada kesulitan yang menimpa seseorang, niscaya setelah itu Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadikan jalan keluar dan kemudahan darinya. Sebab, sesungguhnya satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.” (Imam Al-Hakim berkata, riwayat ini adalah riwayat yang shahih dari perkataan Umar bin Al Khaththab dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma).

Yang ingin saya katakan adalah betapapun Anda menghadapi berbagai kesulitan, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan berikan kepada Anda jalan keluar dan kemudahan darinya.

Saudara Abdurrahman dan para netters di mana pun berada, perlu kita ketahui bahwa dalam Islam yang menentukan bukanlah senioritas semata, atau istilahnya as-sabaqiyah. Akan tetapi, as-sabaqiyah itu akan sangat berarti di sisi Allah subhanahu wa ta’ala dan dalam pandangan Islam, manakala dibarengi oleh ash-shidqiyyah (sejauh mana seseorang membuktikan kebenaran keimanan, ke-islam-an dan ke-senior-annya dengan amal-amal nyata.

Dalam surat At-Taubah [9]: 100, Allah subhanahu wa ta’ala menyanjung sisi as-sabaqiyah (senioritas) ini dan menjanjikan keberuntungan dan surga bagi mereka yang mengikutinya. Hal ini karena mereka adalah orang-orang yang telah banyak berjasa dan berjihad di jalan Allah subhanahu wa ta’ala dengan segala macam pengorbanannya. Hal ini bisa kita simak dari keterangan ayat lain yang berbicara tentang kaum Muhajirin dan Anshar, yaitu di surat Al-Hasyr [59]: 8–9. Dan pada surat Al-Hasyr [59]: 8 ini, Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa hal itu terkait dengan sifat shidiq yang ada pada mereka: “ulaika humush-shadiqun”, mereka itulah orang-orang yang benar. Jadi, as-sabaqiyah semata tidaklah cukup jika tidak dibarengi oleh ash-shidqiyyah.

Hal ini sangat penting untuk kita ingat, agar kita semua tidak terkecoh dan terkena ghurur atau ‘ujub atas kesenioran kita, na’udzu billah min dzalik. Yang harus selalu menjadi perhatian kita adalah sejauh mana kita merealisasikan sifat ash-shidqiyyah kita.

Tentang hubungan antara senior dan junior secara umum, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membuat kaidah yang sangat indah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukan termasuk dari kami seseorang yang tidak menyayangi yang kecil dan tidak mengenali kemuliaan yang besar.” Dalam riwayat lain: “dan tidak menghormati yang besar”. Dalam riwayat lain: “dan tidak mengenali hak yang besar” (hadits shahih diriwayatkan oleh Abu Daud, At-Tirmidzi dan Al Hakim).

Oleh karena itu, saya sarankan kepada para senior, hendaklah kita menyayangi para kunior. Kita harus memandang dan menyikapi mereka dengan sikap rahmah dan kasih sayang, sebagaimana rahmah dan kasih sayang seorang ayah dan ibu kepada anak-anaknya.

Sebaliknya, kita para junior haruslah menempatkan para senior sebagai orang-orang yang mempunyai hak untuk kita muliakan dan kita hormati. Segala bentuk diskusi, syura (penyaluran aspirasi dan gagasan formal) dan istisyarah (penyaluran aspirasi, gagasan informal) haruslah selalu dijiwai oleh spirit rahmah (kasih sayang) terhadap si kecil (baca: junior) dan tauqir (penghormatan) kepada si besar (baca: senior). Dua sifat ini harus kita usahakan agar selalu ada dan terwujud, kalau kita menginginkan tetap diakui sebagai bagian dan umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Satu hal lagi yang perlu kita ingat adalah tentang bahaya perdebatan, yang dalam bahasa Islam disebut jidal atau jadal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak tersesat suatu kaum setelah mereka mendapatkan hidayah, kecuali karena kaum itu mendapatkan kemampuan jadal atau jidal”. (Hadits hasan diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Saudara Abdurrahman dan para netters di mana pun berada, perlu kita ingat (baik kita sebagai senior maupun junior) bahwa berorganisasi, rapat, berkoordinasi bukanlah untuk berdebat dan adu “otot” ilmu dan kepiawaian kita dalam mengolah kata. Akan tetapi, organisasi, rapat dan koordinasi itu dimaksudkan untuk menghimpun berbagai pendapat, menyaringnya, dan memilih yang terbaik, baik menurut sudut pandang syar’i maupun menurut sudut pandang waqi’ (realita) serta sejauh mana pendapat dan pandangan yang terbaik itu qabil lit-tanfiidz (bisa dilaksanakan).

Oleh karena itu, saya menyarankan kepada diri saya sendiri dan kepada Anda, agar saat kita melakukan syura, kita selalu mengingat surat Ali Imran [3]: 159 yang menjelaskan bahwa sebelum perintah syura (wa syawirhum fil amri), terlebih dahulu harus tercipta suasana dan iklim lembut, tidak kasar, tidak keras hati, sifat pemaaf dan memperbanyak istighfar (meminta pengampunan dari Allah subhanahu wa ta’ala).

Sebagai penutup tanggapan saya, dan sekaligus sebagai jawaban atas pertanyaan Anda, saya ceritakan kisah berikut ini: Suatu kali, Hasan dan Husain, dua orang putra Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, melihat seorang tua yang tidak baik dalam berwudhu. Keduanya ingin menasihati orang tua itu. Akan tetapi keduanya masih kecil, sedangkan yang akan dinasihati adalah orang tua. Akhirnya keduanya bersepakat untuk mendekati orang tua itu, lalu berkata, “Paman, saya dan adik saya berbeda pendapat tentang cara berwudhu yang baik dan benar, dan kami tidak menemukan kata sepakat, oleh karena itu, kami meminta paman untuk melihat cara kami berwudhu, lalu paman memberikan penilaian.”

Lalu keduanya berwudhu dengan pengawasan orang tua tadi. Selesai keduanya berwudhu, orang tua itu mengatakan, “Wudhu kalian berdua itulah yang benar dan baik, dan wudhu saya-lah yang salah dan tidak baik, dan terima kasih atas nasihatnya yang baik”.

Demikian. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menjaga diri kita dan dakwah kita ini, amin.

Minggu, 12 Oktober 2008

Annadwiy


Asww
أبو الحسن الندوي واحد من عمالقة الفكر ومؤسسي الندوة
في سنة 1980م دعيت إلى زيارة الهند من جهتين: الأولى: من العلامة الشيخ أبي الحسن علي الحسني الندوي رئيس ندوة العلماء بالهند لزيارة (دار العلوم) التابعة للندوة، وما يتبعها من كليات ومعاهد، وإلقاء عدد من المحاضرات العامة على الأساتذة والطلبة جميعا. وقد أرسل بذلك رسالة إلى أمير قطر الشيخ خليفة بن حمد حفظه الله، فوافق عليها مشكورا.

والثانية: من جامعة الهند العريقة، أزهر الهند: جامعة (ديوبند) الشهيرة التي خرجت ألوف العلماء في شبه القارة الهندية: الهند وباكستان وبنجلاديش وأفغانستان وغيرها من بلاد الأقليات الإسلامية حولها. وذلك بمناسبة الاحتفال بالعيد المئوي للجامعة، وقد دعوا لهذه المناسبة علماء الدين من أنحاء العالم العربي والإسلامي

Sabtu, 13 September 2008

Yusuf


يوسف- عليه السلام- ,

حمدًا لله تعالى، وصلاةً وسلامًا على حبيبنا وسيدنا رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وصحبه ومن والاه، وبعد..


فإن تأملاتنا في هذه الحلقة، سوف تدور حول بعض المعاني اللطيفة، التي اشتملت عليها سورة يوسف عليه السلام، ذلكم النبي المبتلى بالشر والخير، بالبأساء والضراء، بالرق والعبودية والسيادة والملك. ويوسف نبي، وأبوه يعقوب نبي، وجده إسحاق نبي، وجد أبيه هو إبراهيم أبو الأنبياء عليهم جميعًا صلوات الله وتسليماته، قال عنه رسول الله- صلى الله عليه سلم-: "الكريم، ابن الكريم، ابن الكريم، ابن الكريم، يوسف، بن يعقوب، بن إسحاق، بن إبراهيم" ( حديث صحيح رواه البخاري).


وهذه السورة مكية كلها، وقال بن عباس وقتادة: إلا أربع آيات منها. وروي أن اليهود، سألوا رسول الله- صلى الله عليه وسلم- عن قصة يوسف، فنزلت السورة، وقال سعد بن أبي وقاص: أنزل القرآن على رسول الله- صلى الله عليه وسلم- فتلاه عليهم زمانًا، فقالوا: لو قصصت علينا فنزل: ﴿نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ﴾ (يوسف: من الآية 2)، فتلاه عليهم زمانًا، فقالوا: لو حدثتنا، فأنزل: ﴿اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ﴾ (الزمر: من الآية 23)، قال العلماء: وذكر الله أقاصيص الأنبياء في القرآن وكررها بمعنى واحد في وجوه مختلفة بألفاظ متباينة على درجات البلاغة، وقد ذكر قصة يوسف ولم يكررها، فلم يقدر مخالف على معارضة ما تكرر، ولا على معارضة غير المتكرر، والإعجاز لمن تأمل، ولقد اشتمل القرآن المكي على كثير من القصص: قصص الأنبياء والسابقين من الأمم التي خلت من قبل، حتى يسري عن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- ويزيل عنه ما كان يصيبه من هموم وأحزان، بسبب إعراض قومه عن دعوته، وإيذائهم له عليه الصلاة والسلام، وحتى تأخذ الأمة العبرة والعظة من السابقين المكذبين والمعاندين. ﴿فَكُلاً أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (40)﴾ (العنكبوت)، ﴿لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لأُوْلِي الأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (111)﴾ (يوسف).


إن الله- سبحانه- يقص على نبيه الكريم قصة أخ له كريم- يوسف بن يعقوب بن إسحاق بن إبراهيم- عليهم صلوات الله وسلامه أجمعين- وهو يعاني صنوفًا من المحن والابتلاءات: محنة كيد الإخوة، ومحنة الجب والخوف والترويع فيه، ومحنة الرق وهو ينتقل كالسلعة من يد إلى يد على غير إرادة منه، ولا حماية ولا رعاية من أبويه ولا من أهله، ومحنة كيد امرأة العزيز والنسوة، وقبلها ابتلاء الإغراء والشهوة والفتنة! ومحنة السجن بعد رغد العيش وطراوته في قصر العزيز، ثم محنة الرخاء والسلطان المطلق في يديه، وهو يتحكم في أقوات الناس وفي رقابهم، وفي يديه لقمة الخبز التي تقوتهم! ومحنة المشاعر البشرية وهو يلقى بعد ذلك إخوته، الذين ألقوه في الجب وكانوا السبب الظاهر لهذه المحن والابتلاءات كلها، هذه المحن والابتلاءات، التي صبر عليها يوسف- عليه السلام- وزاول دعوته إلى الإسلام من خلالها، وخرج منها كلها متجردًا خالصا؛ آخر توجهاته، وآخر اهتماماته، في لحظة الانتصار على المحن جميعًا؛ وفي لحظة لقاء أبويه ولم شمله؛ وفي لحظة تأويل رؤياه وتحققها كما رآها: ﴿إِذْ قَالَ يُوسُفُ لأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ (4) قَالَ يَا بُنَيَّ لا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلإِنسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ (5)﴾ (يوسف) آخر توجهاته، وآخر اهتماماته في هذه اللحظة هي التوجه المخلص المتجرد المنيب إلى ربه، منخلعًا من هذا كله بكليته، كما يصوره القرآن الكريم:

﴿فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَى يُوسُفَ آوَى إِلَيْهِ أَبَوَيْهِ وَقَالَ ادْخُلُوا مِصْرَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ (99) وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا وَقَالَ يَا أَبَتِ هَذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَاي مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنْ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُمْ مِنْ الْبَدْوِ مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ (100)﴾ (يوسف).


وهكذا كانت طلبته الأخيرة، بعد ذلك كله وهو في غمرة السلطان والرخاء ولمة الشمل، أن يتوفاه ربه مسلمًا، وأن يلحقه بالصالحين، وذلك بعد الابتلاء والمحنة، والصبر الطويل والانتصار الكبير.


يخطئ البعض حين يظن أن يعقوب عليه السلام قد انطلت عليه مؤامرة قتل يوسف، وأنه صدق أبناءه أنه قد مات، لأن يعقوب، إذا صدق أن يوسف قد مات، فإنه لا معنى للرؤيا التي رآها يوسف: ﴿إِذْ قَالَ يُوسُفُ لأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ﴾ فإذا كان قد مات فمتى تتحقق هذه الرؤيا؟. وهناك أمر آخر يدل على أن يعقوب كان على يقين أن يوسف لم يمت، ألا وهو قوله لبنيه: ﴿يَا بَنِي اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلا تَيْئَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الكَافِرُونَ (87)﴾ (يوسف) فإذا كان قد صدق أن يوسف قد مات، فلماذا يأمرهم بالبحث عنه؟ مع الوضع في الاعتبار أنه نبي، ومعاذ الله أن يهذي، أو يقول ما لا يعقل! وأمر ثالث، أن يعقوب نهاهم عن الدخول من باب واحد، وأمرهم أن يدخلوا من أبواب متفرقة، حتى يستطيع يوسف أن ينفرد بأخيه، ويعرفه بنفسه، ويطمئنه على ما سوف يكون. ﴿وَقَالَ يَا بَنِي لا تَدْخُلُوا مِنْ بَابٍ وَاحِدٍ وَادْخُلُوا مِنْ أَبْوَابٍ مُتَفَرِّقَةٍ وَمَا أُغْنِي عَنكُمْ مِنْ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ إِنْ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلْ الْمُتَوَكِّلُونَ (67) وَلَمَّا دَخَلُوا مِنْ حَيْثُ أَمَرَهُمْ أَبُوهُمْ مَا كَانَ يُغْنِي عَنْهُمْ مِنْ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ حَاجَةً فِي نَفْسِ يَعْقُوبَ قَضَاهَا وَإِنَّهُ لَذُو عِلْمٍ لِمَا عَلَّمْنَاهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ (68) وَلَمَّا دَخَلُوا عَلَى يُوسُفَ آوَى إِلَيْهِ أَخَاهُ قَالَ إِنِّي أَنَا أَخُوكَ فَلا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (69)﴾ (يوسف).


والأمر الأخير الذي يدل على أن يعقوب، كان على يقين أن يوسف حي يرزق، أنه بعد أن جاءه القميص فشمه وعاد إليه بصره، قال: ألم أقل لكم إني أعلم من الله ما لا تعلمون. فهذا يدل على أنه كان يعلم عن يوسف ما لا يعلمه إخوته، ولو كان لا يعلم ذلك، لَمَاَ وافق على إرسال ابنه معهم وهو يعلم خيانتهم في يوسف، ولَمَا قال: ﴿قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنفُسُكُمْ أَمْرًا فَصَبْرٌ جَمِيلٌ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ (83)﴾ (يوسف) وتأمل قول الله تعالى: ﴿اذْهَبُوا بِقَمِيصِي هَذَا فَأَلْقُوهُ عَلَى وَجْهِ أَبِي يَأْتِ بَصِيرًا وَأْتُونِي بِأَهْلِكُمْ أَجْمَعِينَ (93) وَلَمَّا فَصَلَتْ الْعِيرُ قَالَ أَبُوهُمْ إِنِّي لأَجِدُ رِيحَ يُوسُفَ لَوْلا أَنْ تُفَنِّدُونِ (94) قَالُوا تَاللَّهِ إِنَّكَ لَفِي ضَلالِكَ الْقَدِيمِ (95) فَلَمَّا أَنْ جَاءَ الْبَشِيرُ أَلْقَاهُ عَلَى وَجْهِهِ فَارْتَدَّ بَصِيرًا قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ مِنْ اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ (96) قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ (97) قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (98)﴾ (يوسف).


ويستفاد من قصة يوسف بعض الأمور منها:

* أن في قصة يوسف، تنبيهًا على بطلان الحيل، وأن من كاد كيدًا محرمًا، فإن الله يكيده ويعامله بنقيض قصده، وبمثل عمله، وهذه سنة الله في أرباب الحيل المحرمة، أنه لا يبارك لهم فيما نالوه بهذه الحيل، ويهيئ لهم كيدًا على يد من يشاء من خلقه، يجزون به من جنس كيدهم وحيلهم.


* وفيها تنبيه على أن المؤمن المتوكل على الله إذا كاده الخلق، فإن الله يكيد له وينتصر له بغير حول منه ولا قوة.


* وفيها دليل على أن وجود المسروق بيد السارق، كافٍ في إقامة الحد عليه، بل هو بمنزل إقراره، وهو أقوى من البينة، وغاية البينة أن يستفاد منها ظن، وأما وجود المسروق بيد السارق، فيستفاد منه اليقين. وبهذا جاءت السنة في وجوب الحد بالحبل- الحمل- والرائحة في الخمر، كما اتفق عليه الصحابة، والاحتجاج بقصة يوسف على هذا أحسن وأوضح من الاحتجاج بها على الحيل.


* وفيها تنبيه على أن العلم الخفي، الذي يتوصل به إلى المقاصد الحسنة، مما يرفع الله به درجات العبد، لقوله بعد ذلك ﴿مَا كَانَ لِيَأْخُذَ أَخَاهُ فِي دِينِ الْمَلِكِ إِلاَّ أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ﴾ (يوسف: من الآية 76) قال زيد بن أسلم وغيره: بالعلم، وقد أخبر تعالى عن رفعه درجات أهل العلم في ثلاثة مواضع من كتابه: أحدها قوله تعالى: ﴿وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ (83)﴾ (الأنعام) فأخبر أنه يرفع درجات من يشاء بعلم الحجة، وقال في قصة يوسف: ﴿كِدْنَا لِيُوسُفَ مَا كَانَ لِيَأْخُذَ أَخَاهُ فِي دِينِ الْمَلِكِ إِلاَّ أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ﴾ فأخبر أنه يرفع درجات من يشاء بالعلم الخفي، الذي يتوصل به صاحبه إلى المقاصد المحمودة. وقال: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحْ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعْ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (11)﴾ (المجادلة) فأخبر أنه يرفع درجات أهل العلم والإيمان.


وفي السور دروس كثير، وحسبي ما ذكرت، مخافة الإطالة، سائلاً الله تعالى أن يعلمنا ما ينفعنا، وأن ينفعنا بما علمنا، وأن يزيدنا علمًا، كما أسأل الله تعالى أن يرزقنا خلق الأنبياء وأن يحشرنا معهم، اللهم آمين

Rabu, 10 September 2008

TARAWEH


Asww

الإسراع في صلاة التراويح

تلقى فضيلة العلامة الدكتور يوسف القرضاوي استفساراً يقول: ما حكم الإسراع في صلاة التراويح ؟

وقد أجاب فضيلته على السائل بقوله: الحمد لله ، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، ومن اتبعه إلى يوم الدين، وبعد : ثبت في الصحيحين عن رسو ل الله صلى الله عليه وسلم أنه قال : ( من قام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه ) . فالله سبحانه وتعالى شرع في رمضان في نهاره الصيام ، وشرع عل لسان رسوله في ليله القيام ، وجعل هذا القيام سبباً للتطهر من الذنوب والخطايا .. ولكن القيام الذي تغفر به الذنوب ، وتغسل فيه الأدناس ، هو الذي يؤديه المسلم كاملا بشروطه وأركانه وآدابه وحدوده . وقد علمنا أن الطمأنينة ركن من أركان الصلاة كقراءة الفاتحة ، وكالركوع وكالسجود.. فإن النبي صلى الله عليه وسلم حينما أساء بعض الناس الصلاة أمامه ولم يؤد لها حقها من الاطمئنان ، قال له : (ارجع فصل ، فإنك لم تصل) .. ثم علمه كيف تكون الصلاة المقبولة فقال له: (اركع حتى تطمئن راكعاً ، واعتدل حتى تطمئن قائماً ، واسجد حتى تطمئن ساجداً ، واجلس بين السجدتين حتى تطمئن جالساً وهكذا (رواه الشيخان وأصحاب السنن من حديث أبي هريرة ) فالطمأنينة في جميع هذه الأركان شرط لا بد منه ، وحد الطمأنينة المشروطة قد اختلف فيه العلماء . فمنهم من جعل أدناه أن يكون مقدار تسبيحة كأن يقول : سبحان ربي الأعلى مثلا . وبعضهم - كالإمام شيخ الإسلام ابن تيمية اشترط أن يكون مقدار الطمأنينة في الركوع والسجود نحو ثلاث تسبيحات ، فقد جاء في السنة أن التسبيح ثلاث ، وذلك أدناه ، فلا بد أن تطمئن بمقدار ثلاث تسبيحات .. ويقول الله عز وجل : ( قد أفلح المؤمنون. الذين هم في صلاتهم خاشعون )المؤمنون : 1،2 .

والخشوع نوعان : خشوع بدن ، وخشوع قلب .

فخشوع البدن : أن يطمئن البدن ولا يعبث ولا يلتفت المرء تلفت الثعلب .. ولا ينقر الركعات والسجدات نقر الديكة وإنما يؤديها بأركانها وحدودها كما شرعها الله عز وجل ..

لابد إذن من خشوع البدن .. ولا بد من خشوع القلب …

وخشوع القلب معناه استحضار عظمة الله عز وجل ، وذلك بالتأمل في معاني الآيات التي تتلى ، وبتذكر الآخرة ، وبتذكر أن المصلي بين يدي الله عز وجل .. وأن الله تعالى يقول في الحديث القدسي ( قسمت الصلاة بيني وبين عبدي نصفين ، فإذا قال العبد : ( الحمد لله رب العالمين ) . قال الله تعالى : حمدني عبدي ، وإذا قال : ( الرحمن الرحيم ) . قال الله عز وجل : أثنى عليًّ عبدي. وإذا قال : ( مالك يوم الدين ) قال الله تعالى : مجدني عبدي . وإذا قال : ( إياك نعبد وإياك نستعين ) ، قال الله تعالى : هذا بيني وبين عبدي ، وإذا قال : ( اهدنا الصراط المستقيم ) . قال الله تعالى : هذا لعبدي . و لعبدي ما سأل ) (رواه مسلم )

فالله سبحانه وتعالى ليس بمعزل عن المصلي ، ولكنه يجيبه فلا بد أن يتجاوب المسلم المصلي مع الله عز وجل ، وأن يستحضر قلبه في كل حركة من حركات الصلاة ، وفي كل وقت من أوقاتها ، وفي كل ركن من أركانها ، فالذين يصلون وكل همهم أن يفرغوا من الصلاة ، وأن يتخلصوا منها ، وأن يلقوها كأنها عبء فوق ظهورهم ، فإنها ليست هذه هي الصلاة المطلوبة وكثير من الناس يصلون في رمضان العشرين والثلاث والعشرين ركعة في دقائق معدودات ، كل همه أن يخطف الصلاة خطفاً ، وأن ينتهي منها في أسرع وقت ممكن … لا يتم ركوعها ولا سجودها ولا خشوعها .. فهذه كما ورد في الحديث : ( تعرج إلى السماء وهي سوداء مظلمة تقول لصاحبها : ضيعك الله كما ضيعتني). والصلاة الخاشعة المطمئنة تعرج إلى السماء بيضاء ناصعة تقول لصاحبها : حفظك الله كما حفظتني .

ونصيحتي لكثير من الأئمة والمصلين الذين يصلون هذا العدد بغير إتقان ولا خشوع ولا حضور قلب ولا سكون بدن ، أن يصلوا ثماني ركعات مطمئنة خاشعة متقنة خير من هذه العشرين ، فليست العبرة بالكمِّ والكثرة ، ولكن العبرة بالكيف والنوع … العبرة في الصلاة نفسها .. هل هي صلاة الخاشعين ؟ أم هي صلاة الخاطفين ؟

نسأل الله عز وجل أن يجعلنا من المؤمنين الخاشعين

Minggu, 07 September 2008

Jumah Amien


حماس تدعو عباس لتبني إستراتيجية أكثر واقعية وعدم الإصرار على نهج التسوية... الرئيس التركي متفائل بنتائج زيارته لأرمينيا... الرئيس الباكستاني يتعهد بتقوية البرلمان والديمقراطية... الأمم المتحدة تدعو لإجراء الانتخابات المحلية بالعراق قبل نهاية العام الجاري... محادثات مصالحة في طرابلس المضطربة بشمال لبنان... جورجيا ستطلب من محكمة بلاهاي وقف "انتهاكات" روسيا... شتاينماير ينافس ميركل على منصب المستشار الألماني... رئيس الوزراء الكندي يدعو لانتخابات يوم 14 أكتوبر... مصر تهزم الكونغو وتتأهل للتصفيات الإفريقية النهائية المؤهلة لكأس العالم.

جمعة أمين يتذكر بدايات الصوم: رمضان شهر التوبة


الداعية جمعة أمين

- القيام في المعتقل له مذاق خاص والأخوة كلمة السر

- الإخوان أعادوا سنة الاعتكاف وصلاة الخلاء بالإسكندرية

- رمضان شهر الأخلاق وفرصة لينطبق القول مع العمل

- على الدعاة استخدام الأسلوب اللين لترقيق قلوب الصائمين


حوار- أحمد رمضان:

"أهلا بالمطهر" هكذا كان يردد سلفنا الصالح كلما هلَّ شهر رمضان المعظم؛ باعتباره الفرصة الأكبر للتطهر من ذنوب عام مضى والتزود لعام جديد؛ ولكن كيف كانوا يستغلونه؟ وما هو البرنامج العملي الذي يجب أن يسير الصائم عليه في شهر رمضان؟ وكيف يكون حال الداعية مع المدعوين؟ أسئلة عديدة طرحناها على مائدة الحوار الرمضاني مع الأستاذ جمعة أمين عضو مكتب الإرشاد لجماعة الإخوان المسلمين.

* بدايةً.. كل عام وأنتم بخير بمناسبة حلول رمضان أعاده الله عليكم بالخير والبركة، ورمضان كما عودنا لا يمر دون أن يترك في ذاكرتنا آثارًا منه، فهل ذكرتم لنا بعض مواقفه التي لا تنسى؟

** الذكريات كثيرة؛ أذكر منها أننا بعد خروجنا من المعتقل في منتصف السبعينيات كان هناك فرص طيبة للقاء الشباب ممن اجتهدوا في طريق الدعوة الإسلامية، وكانت السبعينيات فترة انطلق فيها الشباب المسلم الصوَّام القوَّام وجاء رمضان فرصةً جميلةً لهم، وكم دمعت عيناي وأنا أرى الصبية والشباب والنساء والرجال والكهول وهم يستغربون سنة الاعتكاف؛ فأردنا أن ننشر هذه السنة بين المسلمين في بعض المساجد التي كنا نصلي فيها؛ كم كان الأمر غريبًا بل لم أكن مبالغًا إن قلت إن البعض استنكروه في البداية، وكان السؤال: ما هو الاعتكاف وكيف يكون؟ وهل ننقطع عن أعمالنا الدنيوية من الأكل والسعي إلى معاشنا؟ فكانت فرصة لنا أن نبين هذه السنة، وأن مَن أحيا سنة من سنن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- أحيا الله قلبه؛ كان الإقبال ضعيفًا في أول الأيام ولكن سرعان ما استجاب الناس، ومما أذكره أن بعض الشباب يتساءل كيف لا نخرج من المسجد إلا لضرورة، خاصةً أن الاعتكاف نكون فيه متجردين لله تعالى، وهنا أذكر أنه من الأشياء المضحكة أن أحد الشباب سأل: تعودنا أن نقص شعرنا قبل العيد، وأن نتزين له فقلت له هذا أمرٌ أسهل مما تتصور، وجئنا بحلاقٍ في ليلة العيد فحلق الشباب رأسه وتزيَّن في داخل المسجد نفسه وقضوا وقتًا طيبًا وانتهزنا هذه الفرصة في أننا تعرفنا على الشباب وتعرف الشباب على دعوتنا وكان مخيمًا ربانيًّا تعلَّم فيه الشباب كيف كان يقوم رسول الله- صلى الله عليه وسلم- الليل إلا قليلاً نصفه أو يُنقص منه قليلاً أو يزد عليه ويرتل القرآن ترتيلاً، حلقات في النهار دروسًا في الإسلام تفهيمًا وقيامًا بالليل وإفطارًا جماعيًّا.

* كيف تتذكر هذه الأيام؟

** أذكر هذه الأيام فتدمع العين وأتعجب ممن يسعون في هذه الأيام لكي يمنعوا هذا الخير ويمنعوا هذه المدرسة التربوية الربانية في المساجد؛ فهذه الأيام نسمع أنه لا موائدَ للرحمن ولا اعتكافات في المساجد، عجبًا؛ فإن كان هناك مباراة في ساعاتٍ متأخرة من الليل قاموا الليل لمشاهدة المباراة، وإن كان حفلاً غنائيًّا فحدث ولا حرج، أما المساجد فيقول عنها المولى: ﴿وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا أُوْلَئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوهَا إِلاَّ خَائِفِينَ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ (114)﴾ (البقرة)، فكانت أيامًا طيبةً وفي آخر الأيام جلسنا مع شباب الإخوان وكانت أول مرة في تاريخ الإسكندرية نخرج مكبرين ونُصلي العيد في الخلاء، وأحيينا سنة العيد في الخلاء لأول مرة، وكان في استاد الجامعة ثم نقلنا الصلاة فيما بعد إلى استاد البلدية، وعندما شعرنا بأن هناك اتجاهًا لمنعنا من الصلاة في الخلاء، قمنا بالصلاة في الخلاء في جميع أنحاء الإسكندرية، وكانت المسيرات تجوب الشوارع تُهلل وتُكبِّر من بعد صلاة العشاء حتى صلاة الفجر.. هذه الأعمال يعود الفضل فيها إلى الله تعالى ثم للإخوان الذين كان لهم دور في إحياء مثل هذه السنن، ونسأل الله دوامها.

* ماذا تذكر عن بداية رمضان؟

** الذكريات مرتبطة بالنصائح؛ فأذكر وأنا صبي أنه كان يجمعنا شيخ المسجد في أول ليلةٍ في رمضان لكي نتوب إلى الله سبحانه وتعالى، ونقول: تُبنا إلى الله، ورجعنا إلى الله، وندمنا على ما فعلنا، ونتوجه إلى الله بقبول هذا الشهر والعون على صيامه؛ فالنصيحة التي أنصح بها نفسي وإخواني من المسلمين هي وقفة مع النفس واستعراض عام مضى من عمرنا وابن عباس يقول: "يا بن آدم، إنما أنت أيام، كلما ذهب يوم ذهب بعضك"؛ فمطلوب وقفة محاسبة مع النفس وتوبة وعزم على الطاعة والاستقامة، فضلاً عن إخلاص النية، ويوم أن نُخلص النيات فسيؤلف الله بين قلوبنا، وهذه الألفة تأتي بالعمل الصالح.. ﴿إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمْ الرَّحْمَنُ وُدًّا (96)﴾ (مريم)، من قيام وصيام وتسامح وتصافح وصلة أرحام وإمساك للسان إلا بالقول الطيب، أما الثانية فقراءة القرآن، فالذين لا يعرفون الأوراد إلا في رمضان ليتهم يُدربون أنفسهم على تحديدِ وردٍ من القرآن أقله جزء يقرؤه يوميًّا يتدبر فيه الآيات، ويستخلص فيه الدروس والعبر، ويقف أمام الدروس التربوية.

أما الثالثة فشاء الله تعالى أن تكون من سماتِ هذا الشهر، وهي الوحدة والجماعة ودين الإسلام دين الجماعة، ورمضان يُذكِّرنا بهذه الوحدة والوجهة والسلوك والتعبد لله سبحانه، لعل الله ينصرنا بالقرب إليه على الظالمين الذين ظلمونا، وعلى الكافرين ممن عادونا، وعلى كل مناوئ للدعوة بوحدةِ المسلمين في منهجها.

الأمر الأخير الذي أُحب أن ألفت إليه النظر هو "الأخوة" التي جعلها الإمام البنا ركنًا من الأركان، وجعلها ابن القيم عقدًا من العقود التي بين الإنسان وبين ربه، هذا الركن الركين يتحقق عمليًّا في هذا الشهر حين نُسبِّح ونُكبِّر ونُهلل ونصلي ونقوم ونعتكف، وشاء الله تعالى أن يكون أول نصرٍ للمسلمين وهم قلة على الكفرةِ في بدر، وكان السبب الأساسي لا كثرة عددهم ولا كثرة عتادهم، ولكن في المقام الأول بسجودهم وركوعهم فحققوا ركن الإيمان، وحققوا ركن الأخوة، وما الإسلام إلا هذان العقدان (الإيمان)؛ وذلك حق الله على العباد، و(الأخوة)؛ وذلك حق الأخ على أخيه، ولا شك أن كلام عبد الله بن عمر من أنسب ما يُقال في هذا الموقف، فيقول: "والله لو صمت النهار لا أفطره، وقمت الليل لا أنامه، وأنفقت مالي غلقًا غلقًا في سبيل الله، وأموت يوم أموت وليس في قلبي حب لأهل طاعته ولا بغض لأهل معصيته ما نفعني ذلك شيئًا"؛ بمعنى أن شريعة الله لا تتحقق إلا بالأخوة.

* وماذا عن ذكريات رمضان في المعتقل؟

** أتذكر أننا كنا نحتفل في رمضان بالنصر، وكنا نستبشر من هذا الانتساب للنصر إلى رمضان وإلى بدر التي كانت مثالاً للمسلمين، المقصود في المعتقل ليس أن لرمضان خصوصية فيه بقدر ما الصيام في ذاته جامع للمسلمين ووحدتهم، فما بالكم عندما يجمع الظلمة المسلمين عنوةً، وهم لا يدرون أن هذا الجمع الطيب الذي اجتمع على قول الله تعالي ﴿لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ﴾ (الفتح: من الآية 4) فكنا نُقيم الليل في رمضان، وكان له طعم ومذاق وصفاء نفس وإخلاص في التوجه إلى الله سبحانه وتعالي، فالحقيقة كان فيه لون من ألوان الألفة والوحدة التي لا تجمعنا على طعامٍ واحدٍ وإفطار واحد فحسب، ولكن أيضًا على قيام الليل الذي قال رب العزة فيه ﴿وَمِنْ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ﴾ (الإسراء: من الآية 79)، فالإنسان عندما يكون في شدةٍ يكون أقرب إلى الله، فما بالك عندما تأتي الشدة في رمضان، ولقد انتظرنا الإجابة من المولى وقد أتت مسرعةً.

* يحمل كل مسلم معنى بداخله لرمضان؛ فماذا يعني هذا الشهر للأستاذ جمعة أمين؟

** هذا الشهر له فضله، بما فضَّله المولى سبحانه وتعالى؛ فهو شهر جمع بين الفرائض جميعًا نصوم ونقوم ونُصلي ونُزكي، والعمرة في العشر الأواخر فيه بمنزلةِ الحج، والحقيقة أن هذا الشهر نموذج للمسلم كي يحتذي هذا السلوك الذي يسلكه في هذا الشهر لكي يطبق هذا السلوك في العام كله ليكون نموذجًا للمسلم خلقًا ودعوةً وتطبيقًا للإسلام والواقع.

* ما أهم ما يُميز هذا الشهر؟

** إنَّ أهم ما يُميز هذا الشهر هو الأخلاق، وأستطيع أن أقول بكل جوارحي وبكل نبضة في أن هذا الشهر نستطيع أن نُسميه شهر الأخلاق الإسلامية الذي يحقق قول الرسول- صلى الله عليه وسلم- "إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق" فأنت في هذا الشهر لا تقول للناس إلا حسنًا؛ وأنت في هذا الشهر تدفع بالتي هي أحسن وإن أساءوا إليك، أنت في هذا الشهر الكريم رجل إن رماك الناس بالحجر ألقيت إليهم بالثمر، هذا الشهر الكريم الذي يُعلمنا كما نأكل طيب الطعام فإننا نتحرى طيب الكلام، إنه شهر كريم حقًّا فيه ما فيه من حسن الخلق؛ انظر إلى قول الرسول- صلى الله عليه وسلم- "فإن سابك أحد أو شاتمك فقل إني صائم"؛ ما معنى أني صائم؟ معناها أنك صاحب خلق.

أقول هذا شهر كريم تتجلى فيه الأخلاق، بل إن أهم ما يتميز به المؤمن في هذا الشهر أن يترجم أقواله إلى أفعال وسلوك وإلا فما قيمة الصوم إن كان بذاءً أو شتامًا أو عنيفًا مع الناس.. كيف يكون ذلك مع مَن قام الليل وصام النهار وتلا القرآن ورطَّب لسانه بذكر الله بعين دامعة وجسد خاشع وأقدام متورمة ﴿إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آياتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًَا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (2)﴾ (الأنفال).

* ما هي مشاهد الأخوة التي تلتمسها في الشهر الفضيل؟

** حينما نسمع أذان المغرب نجد الكل يقتسم التمرة ليسرع بإفطار أخيه هذا منظر جميل؛ لأن مَن فطَّر مسلمًا ثوابه عند الله عظيم والمولى يضاعف أجره نظير هذا العمل، والناس تتخذه موسمًا للأذكار والأوراد وللأسف نجد أنه ثاني يوم العيد كأن هذه العبادات لم تكتب إلا في رمضان، أما الدعاة فيتخذون من رمضان منطلقًا للجهد والجهاد والحب والألفة والأخوة والحرص على الجماعة وكل المعاني الطيبة.

* أخيرًا نصائح تقدمها للدعاة في رمضان؟

** أختم للدعاة بآيات الصيام التي فيها توجيه للدعاة كيف يدعون إلى الله فيقول تعالى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183)﴾ (البقرة)، أي أن هناك بشرًا قبلكم صاموا؛ فحنانيكم بالناس؛ ثم يقول ﴿فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ﴾ (البقرة: من الآية 184)؛ وصدق على حين قال: من لانت كلمته وجبت محبته، والصيام يُعلمنا كيف نصبر ونتدرج مع الناس في الدعوة إلى الله وكيف نُشجِّع المبتدئ على أن يستمر في طاعة الله فلا نلمز أحدًا ولا نقلل من شأن أحد، ولكن نشعر بأننا جميعًا نحوم حول شيء واحد ألا وهو التقوى.

نسأل الله أن يأتي رمضان وقد نصر الله المجاهدين خاصةً في غزة المثابرين الصامدين حتى يرينا الله نصره رأي العين ولو نقول متي هو ﴿قُلْ عَسَى أَنْ يَكُونَ قَرِيبًا﴾ (الإسراء: من الآية 51).

Hijab


Asww.
يأتي شهر رمضان المبارك بكثيرٍ من المظاهر الروحانية الرائعة، فيرسم صورة إيمانية عالية؛ من بينها إقبال غير الملتزمات بالحجاب على ارتداء هذا الزي الإسلامي الذي فرضه الله عز وجل، إلا أن تلك الصورة قد تهتز وتبهت ألوانها بالحجاب الموسمي الرمضاني الذي سريعًا ما يُنزَع بانقضاء أيام الشهر الكريم؛ الفعل الذي يجرمه البعض ويبادر برمي الحجر على صاحبته؛ دون تأنٍّ أو تفهم، ودون إدراك لتلك الفرصة السانحة والأبواب المفتوحة على واسع فيض الشعور بالله وعظمته، والتي إن اقتُنصت سار الحجاب الموسمي جزءًا لا يتجزَّأ من كيان الفتاة.



فالواقع أننا قد نتحايل على أنفسنا كثيرًا و نهادن ضمائرنا أكثر، ونتصادم مع الآخرين أحيانًا أو لا نبالي بهم إطلاقًا، وقد نختلف في الآراء أو نتحزَّب، ولكن تظل المسلَّمات الدينية أمرًا واقعًا لا تبديل لها، وينقصنا- كنفوس بشرية- فن التعامل والتعاطي مع أنفسنا قبل الآخرين.



مخدر للضمائر

الدكتور شحاتة محروس أستاذ علم النفس بجامعة حلوان يطالب بعدم إحباط تلك الفتاة أو النفور منها، ويرى أن علينا أن نتودَّد إليها وندعوَها إلى الاستمرار؛ لأن الله يرحب بأي تقارب وأي جهد اتجاهه.

ويوضِّح أن تلك الظاهرة صحية؛ لأنها تدل على أن الفتاة تشعر أنها على خطأ وتتوجه إلى الصواب ولو بخطوات متباطئة.

ويؤكد أن الأسباب النفسية لظاهرة الحجاب الموسمي في رمضان أبسط مما نتصور؛ فالجو العام لشهر رمضان الكريم قابل للتدين، ويهيِّئ الإنسان للتقرب إلى الله، فتجد الفتاة نفسها محبة للطاعة وغارقةً في جوٍّ إيماني لا تستطيع أن تنقصه بامتناعها عن الحجاب، فضلاً عن كون الحجاب الموسمي يمثِّل المخدِّر و"البنج" الذي يخدِّر ضمير الفتاة عن تركها فريضة الحجاب؛ فالإنسان عندما يفعل الصواب لبعض الوقت تهدأ نفسه وتستريح نسبيًّا، ولكن الخطأ هو العودة بعد شهر رمضان إلى المعصية والضلالة، وسبب تلك العودة هو اتباع الفتاة للهوى، فتبيح لنفسها وتبرر الأمر لذاتها فتخلع الحجاب مرة أخرى؛ وذلك بمساعدة بعض العوامل الخارجية، مثل الصديقات غير المحجبات، ومفهوم اللهو والاحتفال الذي يمارسه البعض في عيد الفطر ببعض الطقوس، فتخلع الفتيات الحجاب ويتزيَّنَّ ويرتدين ملابس جديدة ويخرجن للتنزه مع عائلاهن وصديقاتهن، ومع تلك الردة يعود إلى الفتاة ذات الشعور الأول بعدم الراحة وبألم المعصية.



ويستنكر شحاتة محروس تنازل الفتاة عن خطواتها الجيدة التي أحرزتها في اتجاه الله مثل الأعياد والأفراح وخاصةً حفل زواجها، مؤكدًا أن الفرح ليس بالخطأ، ولكن هناك طرق كثيرة للفرح دون إغضاب الله، وان تلك الأفعال هي خلل في فهم الناس لمعنى الفرح.

وعن كيفية استغلال تلك الومضة الإيمانية لدى الفتاة غير المحجبة في شهر رمضان يقول: "إنه لا بد من تشجيعها ومدحها كثيرًا والثناء عليها وعلى مظهرها، وعلينا أن نصف ذلك الضوء الساطع في وجهها نتيجة إحساسها بالطاعة، ونحببها في حجابها ومظهرها، ثم علينا أن نجمعها بصديقات محجبات يعنِّها على الحجاب والطاعات والفضائل، فتجد نفسها بينهم بحجابها؛ لأنها إن ظلت مع غير المحجبات سيهاجمها شعور الغربة بين الحين والآخر، وعلينا أن نوضح لها أن كل من يقول لها "اخلعي الحجاب رمضان خلص" هو عدو وليس صديقًا، وأن المجموعة التي ترفضها بحجابها هي مجموعة لا تستحقها.

وزر الآباء والأمهات

وحول الموقف السلبي لكلٍّ من الأب والأم عند خلع فتاتهم الحجاب فيقول: "إن الصمت عن خلع الحجاب من قِبل الوالدين سلوك مخطئ؛ يحمل بين ثناياه موافقة ضمنية، وكأنهما يقولان لها أن تستمر على ذلك"، مضيفًا: "الآباء والأمهات يربون أولادهم على أن معنى الحرية هو أن تفعل ما تريد بصرف النظر عن أن هناك مسلَّمات لا يصلح أن تدخل فيها الحرية؛ لأن الحرام مرغوب فيه من النفس البشرية، ولكنه حُرِّم لحكمة عند الله قد يدرك العاقل ويقتنع بها وقد تغيب عن وعي الغافل، ولكن لا بد أن يخضع لها حتى يدركها مختلطةً بحلاوة الطاعة؛ فالعبادات والفرائض والمحرمات لا يمكن أن نسمح بانزلاقها في مفاوضات مع مفهوم الحرية؛ فالحرية يجب أن لا تمس العقيدة".



ويؤكد أن واجب الأب والأم أن يغرسا قيمة الحجاب في نفس الفتاة منذ الطفولة، حتى تتعوَّد في كِبَرها عليه؛ فنحدثها عن الحجاب ونغرسه في نفسها ونشتري لها أنواعًا جميلة منه في صغرها ونشركها في اختيارها، ونمنيها بيوم ارتدائها، ولكن في وقت البلوغ لا بد من الإجبار ولكن مع شيء من اللين والإقناع والحوار والترغيب، وهنا يظهر مدى فائدة العلاقة الطيبة بين الوالدين وابنتهما؛ فالفتاة التي تمتلك رصيدًا من العواطف والتقارب مع والديها تميل إلى لصواب وتبعد عن المكروه حفاظًا واحترامًا على ذلك الرصيد.



الثواب في النية

ويؤكد الدكتور مجدي شلش رئيس قسم أصول الفقه بكلية الدراسات الإسلامية، فيقول إنه إذا كانت النية لدى الفتاة في حجابها الرمضاني هو التستر والاحتشام وإتمام صيامها الذي من شروطه الحجاب والحفاظ على صيام الآخرين وتنفيذ ما أمر الله، فإنها تثاب على ذلك، كما يقبل أيضًا صيامها، وإن كان حجابها ذلك لرمضان فقط أو كان ما تفعله "موضة" دون نية الاحتشام فلا تثاب.



ويؤكد شلش أن خلع الحجاب بعد رمضان أثم ومعصية ومخالفة لأمر الله؛ تجازى عليها الفتاة؛ لأنها خالفت ما اجتمعت عليه الأمة.



ونفى شلش أن يكون خلع المرأة الحجاب بعد رمضان استهزاءً بالدين، ولكنه نوع من الهوى والمعصية وعدم الاستجابة لله؛ نظرًا لضعف الإيمان، ولا يعني الخلو من الدين؛ مؤكدًت أن الكثير منا يفعل الطاعات في رمضان ولا يستطيع ذلك بعد رمضان، ولكن الأذكى والأصلح والأتقى هو من يستمر على الطاعات ويجاهد نفسه لأداء النوافل.



ويؤكد أن خطوة ارتداء الحجاب في رمضان محمودة؛ لأن النفس البشرية لا تقنع ولا تهدأ للشيء إلا بصورة متدرجة، أما أصحاب العزائم فهم القادرون علة إلزام أنفسهم وجهادها، وهم أصلح وأتقى.



ويرشدنا إلى كيفية التعامل مع صاحبة الحجاب الموسمي قائلاً: "لا بد أن نوقظ الإيمان في قلبها ونخبرها بالحكمة والموعظة الحسنة أن الحجاب اكتمال إنساني وكمال بشري، وأن المرأة صاحبة الدين والخلق تكتمل بالحجاب، ونذكرها بالله ورضاه ورضا رسوله والمجتمع الفاضل السليم، أما المجتمع الذي يستهزئ بالحجاب فلا يجب أن ننظر أو نلتفت إليه".



ويضيف: "اللين ما دخل في شيء إلا زانه، والرفق مطلوب والتذكرة الحسنة؛ فلابد أن نتعامل مع تلك الفتاة بحكمة ولا ننفرها ونقصي قلبها بسوء معاملتها، وعلينا أن نعلِّمها أن رضا الله أولى من رضا أي مخلوق، وأن الحجاب لطاعة الله وبرضا الله يرضى الناس، إلا أن خلع الحجاب يأتي نتيجة مؤثرات كثيرة وضغوط أكثر؛ فنحن نعيش في ظل إعلام مفتوح وردة حضارية وبُعد عن قيم الإسلام.



ويوجِّه نصيحة إلى الفتاة قائلاً: "على كل فتاة ألا تهتم بمن يردُّها عن الله، وأن تختار الرفقة الطيبة التي تساعدها على الطاعة؛ لأن الرفقة مهمة جدًّا لمن يسعى إلى الالتزام؛ وأن تدعو الله دائمًا أن يهديَها وأن يرزقها الحجاب والطاعة والإيمان، وأن يلين قلبها للعبادات وينفره من المعاصي".



ويقول: إن واجب المجتمع اتجاه تلك الفتاة هو واجب الطبيب نحو المريض؛ فلو نظر الطبيب إلى المريض نظرة سيئة سوف ينفر منه المريض ويرفض علاجه، ولكن الطبيب الماهر يرى المريض ويطمئنه ولا يخدعه، ولكنه يحن عليه ويشفق عليه ناظرًا إلى المستقبل، وواضعًا العلاج المناسب.



فالأمراض البدنية تختلف، وكذلك أمراض النفوس والمعاصي تختلف؛ فلا بد أن يمتلك المجتمع نظرة الطبيب الماهر الذي يحاصر المرض ويعالجه من جذوره حتى يتعافى المريض، وأن يستغنيَ عن نظرة الجزار الذي لا يفعل شيئًا سولا البتر والتقطيع.



عيون المجتمع العديدة

ويوضح الدكتور أيمن أنس أستاذ علم الاجتماع بجامعة الزقازيق أن المجتمع اليوم، وبرغم كون الحجاب التزامًا دينيًّا أقرَّه الشرع، إلا أن الكثير يصور الحجاب وكأنه اختيار شخصي للفتاة، ومن يفعل ذلك يأخذه من المنظور الشكلي وليس الديني.



والكثيرون من أفراد المجتمع لا يدركون أن القيم ثابتة لا تتغير، وخاصةً الفرائض والفضائل، مضيفًا أننا لا نستطيع رفض ارتداء الفتاة الحجاب في رمضان وسوف نقول إنه شيء مقبول، ولعله البداية.



وعن نظرة المجتمع لتلك الفتاة يقول: "المجتمع به أنماط كثيرة: الأول ينظر إلى تلك الخطوة على أنها بداية صالحة وأمر طيب يُحمد، وهو أفضل من الاستمرار في المعصية في شهر الفضيلة، والنمط الثاني ينظر إلى الصورة السيئة وليس إلى الصورة الحسنة، ويركز على كونها بعد رمضان سوف تخلع الحجاب، ويتساءل: "لماذا تفعل؟!"، ويشكك في قيمها.



ويضيف: هناك نمط آخر منشغل لا ينتبه لمثل تلك الأمور ويراها من الحريات والاختيار الشخصي، ويتبع مبدأ "محدش فاضي لحد"؛ وذلك نتيجة المتغيرات العالمية والعولمة؛ فالجميع منشغل ومنصرف عن الدور الاجتماعي الطبيعي للمجتمع السليم في النهي عن المنكر والأمر بالمعروف؛ فعلى المجتمع أن يقوِّم أفراده ويردهم عن الخطأ؛ فلو وجد كل فرد نفسه مهدَّدًا بالنبذ والوحدة سوف يراجع نفسه حتى لا يقع في دائرة الإقصاء الاجتماعي.






مسلمات يجبرن شركة أمريكية على احترام الحجاب أثناء العمل

الحملة على الحجاب.. موالاة إبليس